Merawat Pusaka Perlu Pengetahuan

Editor: Ivan Aditya

YOGYA, KRJOGJA.com – Kelestarian benda bersejarah tergantung cara merawat dan penyimpanannya. Ketika koleksi tersebut tidak dirawat dengan semestinya, tentu akan mempercepat kerusakan.

"Merawat koleksi benda bersejarah harus memiliki pengetahuan yang benar. Tidak cukup hanya mengikuti adat tradisi yang sudah turun-temurun meski hal tersebut sebenarnya kurang pas," jelas kurator senjata Mu￾seum Sonobudoyo Yogyakarta, RM Sumitro SH.

Seperti halnya penanganan koleksi keris di Museum Sonobudoyo yang selama ini ia jalani. Tidak setiap saat, koleksi keris di Museum Sonobudoyo harus diwarangi. Pasalnya, jika terlalu sering justru akan mempercepat kerusakan koleksi langka dan bernilai tersebut.

"Karena ketika warangan ditambah dengan jeruk nipis, kadar asam yang menempel di keris akan makin pekat. Karena tidak ada alat yang dapat mendeteksi korosi dalam logam. Bisa jadi tiba-tiba saat keris dibuka dari warangka bilahnya sudah rusak," jelas Pak Mitro.

Kaprah yang terjadi di dunia perkerisan lanjut Sumitro, ketika warangan tersebut selalu dibarengi dengan mengoleskan air jeruk nipis. "Ketika mewarangi memakai jeruk nipis dipakai ketika pamor sudah mulai pudar. Untuk itu perlu diperjelas kembali dengan proses pewarangan. Bukan sekadar bicara gaib, tapi lebih pada estetika," jelasnya.

Akan lebih baik menurut Sumitro ketika melihat keris yang indah, sepuh dan tangguh. Apalagi untuk koleksi museum yang disaksikan banyak pengunjung. Sebab koleksi kuno menurutnya tidak harus identik dengan keropos.

"Di situlah pentingnya memberi pengertian yang benar. Memang tidak menutup mata yang dilakukan selama ini berdasar alasan adat turun-temurun. Tapi akan lebih baik jika dengan dasar pengetahuan yang lebih baik sehingga koleksi langka tersebut tetap terawat baik," imbuhnya.

Dijelaskan Sumitro, dari lebih 2.500 koleksi keris di Museum Sonobudoyo memiliki perawatan yang sama dan tidak ada yang paling diistimewakan. Kendati merupakan keris sepuhdengan sejarah yang penting, tapi tidak lantas menjadikan harus diperlakukan spesial.

"Kami butuhkan tampilan eksoteri yang bagus. Dari sekian koleksi yang kami miliki, ada sekitar 90 persen yang masih layak pamer dan langka kendati usianya sudah tua," ucap Sumitro. (Feb)

BERITA REKOMENDASI