Meriah! Syawalan Demonstran 98 

Editor: Agus Sigit

Syawalan nasional aktivis gerakan mahasiswa 98 pada Minggu siang (22/5) berlangsung meriah. Ratusan mantan demonstran dari berbagai daerah yang menumbangkan rezim Orde Baru tumplek bleg di Imperial Ballroom The Rich Hotel Yogyakarta.

Syawalan “Ngumbar Demonstran; Yang Berserak Terus Bergerak” digelar mirip seperti aksi demonstrasi. Aktivis ISI Hendro Plered dan Yoyok Suryo yang membawakan acara tak cukup memegang mikrofon tapi juga megaphone. Pengeras suara yang kerap dipakai saat aksi demonstrasi.

Suasana ballroom riuh dengan teriakan dan yel-yel “Hidup Rakyat”, “Hidup Pemuda”, “Demonstran Bersatu Tak Bisa Dikalahkan.” Spanduk berwarna merah menyala terpajang di kaki panggung bertuliskan “Tak Pernah Tua Untuk Mengangkat Toa,”

Perwakilan aktivis bergantian melakukan orasi.  Semangat untuk terus menyuarakan nasib rakyat kecil tetap menggelora di dada para aktivis yang rata-rata sudah berusia di atas 40 tahun.

Acara diawali dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya 3 stanza. Dilanjut dengan pembacaan Pancasila, Sumpah Mahasiswa dan lagu Darah Juang dipimpin penciptanya langsung John Tobing. Lagu Darah Juang adalah lagu wajib yang selalu dinyanyikan dalam setiap aksi-aksi mahasiswa.

Gelaran syawalan kian hangat dengan tampilnya vocalis group rock Boomerang Roy Jeconiah. Roy diiringi Dr. Feelgood membakar suasana dengan melantunkan tiga tembang hits, yakni Kisah, Berita Cuaca dan Pelangi. Performa panggung Roy menarik penonton untuk merangsek maju ke depan panggung sembari mengkibar-kibarkan bendera Merah Putih.

Suasana makin meriah ketika Gus Muwafiq naik ke panggung. Bukannya memberikan tauziah, Kyai muda berambut gondrong itu membuka penampilannya dengan mencabik gitar melody memainkan tembang Speak Softly Love Andy Wylliam. Sontak hadirin bertepuk tangan riuh. Tak berhenti disitu alumni UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta itu membawakan tembang berjudul Bongkar dan Kesaksian diiringi group musik Garuda Samsara.

Koordinator umum acara Syafaat Noor Rohman mengapresiasi kehadiran kawan-kawan yang datang dari sejumlah daerah seperti Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Madura, Bali, Kalimantan dan Sulawesi.

Menurut aktivis penggiat literasi aksara Jawa ini acara ini bukanlah mengenang romantisme masa lalu melainkan ajang untuk menjaga persekawanan yang telah lama terbangun. Harapannya kedepan masing-masing individu terus berkontribusi pada sejarah perubahan di negeri ini.

Aktivis asal Kendal Jawa Tengah Beni Karyadi menyambut gembira momentum syawalan aktivis di Yogyakarta. Selain menjaga spirit perjuangan juga untuk saling membuka ruang-ruang sinergi antar jaringan aktivis yang ditujukan untuk mendorong kualitas demokrasi yang semakin baik dan terwujudnya kemakmuran rakyat.

Sementara itu aktivis Surabaya Muhaji mengajak segenap aktivis tidak pernah lelah mencintai Indonesia. Tugas-tugas kebangsaan kedepan masih menghadang dan menunggu peran kongrit semua kalangan.

Sementara itu aktivis Jakarta Masinton Pasaribu mengungkapkan Indonesia saat ini menghadapi tantangan menguatnya praktek oligargi kekuasaan. Ia mencontohkan kasus kelangkaan dan melangitnya harga minyak goreng beberapa waktu lalu adalah bukti kepentingan rakyat terkalahkan oleh kroni-kroni di lingkaran kekuasaan yang menghianati amanat hati nurani rakyat.

BERITA REKOMENDASI