Mie dan Teh Daun Kelor, Peluang Usaha Baru Ibu-ibu PKK

Editor: Ivan Aditya

YOGYA, KRJOGJA.com – Kejadian anemia pada ibu hamil dan gizi buruk pada balita terus meningkat. Kedua kasus ini saling mempengaruhi dan berbanding lurus, serta dapat menjadi penyebab angka kematian ibu, bayi, dan balita. Tentu saja dapat mempengaruhi kualitas golden ages period atau masa keemasan pada 1000 hari pertama kelahiran.

Anemia pada masa kehamilan dan menyusui serta gizi buruk pada balita dapat terjadi karena beberapa penyebab, antara lain pola kebiasaan mengkonsumsi makanan instan atau cepat saji. Selain itu, kebiasaan minum teh selama hamil akan menghambat penyerapan zat besi karena kandungan tannin dalam daun teh.

Adanya pandemi COVID-19 juga berdampak pada perekonomian masyarakat yang cenderung menurun. Hal inilah yang menurunkan daya beli masyarakat terhadap makanan bergizi. Oleh sebab itu, di masa saat ini, masyarakat dituntut untuk mandiri secara ekonomi dalam ketahanan pangan dengan pemanfaatan bahan alam menjadi produk pangan fungsional yang inovatif dan memiliki peluang usaha potensial.

Pada hari Minggu, 3 Oktober 2021 dosen dan mahasiswa Program Studi Gizi Program Sarjana Universitas Respati Yogyakarta berkolaborasi dengan Mahasiswa Program Studi Kesehatan Masyarakat Program Doktoral Universitas Sebelas Maret dan Tim Penggerak PKK RT 07 RW 06 Gedongan Colomadu Karanganyar mengadakan Program Kemitraan Masyarakat bertemakan pangan fungsional berbahan dasar kelor.

Tanaman kelor dipilih karena merupakan tanaman liar yang mudah didapat dan dibudidayakan, namun memiliki kandungan zat besi, protein, asam folat, kalsium, vitamin dan zat gizi lainnya yang sangat tinggi. Dalam PKM dengan pendanaan dari Kementerian Riset dan Teknologi ini, Tim melakukan pendampingan pada mitra selama pembuatan sampel produk hingga pembuatan desain rencana usaha.

Menurut Dosen S1 Gizi UNRIYO, Tri Mei Khasana, sampel produk mi dan teh ini sudah kami lakukan uji proximate dengan hasil yang baik. Selain itu, Rizka Ayu Setyani, Mahasiswa S3 IKM UNS mengatakan bahwa hal yang berbeda mi kelor ini dengan lainnya adalah bahan tepung yang digunakan adalah tepung lele. Lele memiliki kandungan protein yang tinggi namun daya konsumsinya masih rendah jika dibandingkan jenis ikan lainnya.

Selain produk mie, dalam PKM ini juga diajarkan bagaimana membuat teh celup dan seduh berbahan daun kelor dan sereh. Sereh ditambahkan karena memiliki manfaat menghangatkan tubuh dan meningkatkan imunitas apalagi saat pandemi COVID-19.

Mitra PKK sangat antusias selama kegiatan PKM ini. Kegiatan diikuti dalam kelompok kecil dengan menerapkan protokol kesehatan yang ketat. Kegiatan ini dinilai sangat bagus, dan mengajarkan ibu-ibu PKK untuk dapat kreatif ditengah pandemi ini.

“Kami berharap akan terus diadakan kegiatan serupa yang dapat memotivasi ibu-ibu PKK dengan pemanfaatan bahan yang murah menjadi produk yang bermanfaat dan berkualitas,” kata Darmini Tri Waluyo, Ketua TP PKK RT 07 RW 06 Gedongan Colomadu Karanganyar. (*)

BERITA REKOMENDASI