Milenial Punya Peran Besar Bangkitkan UMKM Indonesia

Editor: Agus Sigit

YOGYA, KRJOGJA.com – Pandemi menerpa berbagai sektor, tak hanya kesehatan. Ekonomi terdampak, meski tak semua sektor karena ada yang bertumbuh ketika terjadi penyesuaian kehidupan akibat dampak penyebaran virus Corona.

Situasi ini menimbulkan persoalan di masyarakat di mana jurang kesenjangan semakin terasa. Di satu sisi misalnya, ada masyarakat di PHK tak bisa dapat penghasilan namun di sisi lain ada industri yang tumbuh di masa pandemi.

Inilah yang kemudian menjadi perhatian BPR MSA Yogyakarta yang menggelar webinar nasional bertajuk Peran Milenial dalam Membangkitkan Ekonomi UMKM. Direktur Utama BPR MSA Y Tri Agung Pujiantoro mengatakan sektor informal dan UMKM saat ini menjadi pilihan paling masuk akal bagi sebagian besar lapisan masayarakat demi mempertahankan kehidupan.

“Untuk itu, begitu terasa UMKM berperan besar sebagai solusi perekonomian, yang mana perlu diperkuat keberadaannya. Berbagai kesulitan dan hambatan yang dihadapai UMKM harus dipecahkan bersama,” ungkap Agung, Sabtu (25/9/2021).

Berbagai keterbatasan yang dimiliki UMKM membuat mereka kesulitan menyelesaikan segala permasalahannya. Hal ini membutuhkan perhatian berbagai pihak untuk mengembangkan UMKM dari berbagai aspek.

“Kami menilai justru bukan penguatan modal yang pertama dilakukan, tapi perlu dibangkitkan rasa percaya dirinya, supaya muncul aneka kreativitas dan inovasi yang lebih cemerlang. Baru kemudian modal dikuatkan,” sambung dia.

Sementara, terkait generasi milenial yang kini mendominasi, Agung mengatakan bahwa hal tersebut menjadi potensi luar biasa yang harus dimaksimalkan. Mahasiswa misalnya, menerapkan apa yang didapat di kampus untuk membantu UMKM berkreasi.

“Mahasiswa sangat potensial berperan sebagai enabler ini. Milenial yang identik dengan dunia digital, akan mempercepat UMKM melakukan digitalisasi, selain penguatan-penguatan berbisnis kekinian lainnya. Kolaborasi UMKM dan Milenial menjadi kemungkinan pilihan strategis yang dapat diambil. Oleh karena itu, langkah kongkrit menyambungkan atau mempertemukan UMKM dan mahasiswa perlu segera dilakukan,” sambungnya lagi.

Program kolaborasi menurut Agung, akan menghasilkan manfaat ganda (double benefit) sekaligus bagi bangsa Indonesia. Pertama, meningkatnya daya saing UMKM, dan kedua mempersiapkan mahasiswa, generasi muda dalam menyongsong bonus demografi.

Model orkestrasi kolaboratif ini diharapkan akan mempercepat Bangsa Indonesia bangkit dari keterpurukan dan pesimisme. Sebaliknya, dengan gerakan ini ingin menunjukkan ada secercah cahaya di ujung terowongan gelap.

“UMKM akan memiliki harapan baru, semangat baru, dan inovasi. Dari sisi para mahasiswa (milenial), mereka akan memiliki pengalaman konkrit yang berharga bagi pembentukan kepribadiannya. Dalam diri mahasiswa akan muncul jiwa kepemimpinan, solidaritas, dan tentu saja kompetensi lain yang akan menunjang kariernya kelak. Bahkan mereka sangat mungkin berkreasi sebagai pelaku UMKM,” pungkasnya. (Fxh)

Webinar BPR MSA

 

BERITA REKOMENDASI