Mimpi LRT di DIY Bakal Diwujudkan

YOGYA, KRJOGJA.com – Pemda DIY menawarkan rencana bisnis program pembangunan transportasi kereta ringan atau Light Rail Transit (LRT) kepada seluruh stakeholder dan swasta. Pembangunan jalur LRT sepanjang 75 kilometer guna mengurai kemacetan dan alternatif menuju New Yogyakarta International Airport (NYIA) tersebut diperkirakan membutuhkan kucuran dana setidaknya Rp 2,5 triliun serta lahan dengan total seluas 2.500 hektare.

"Kami memang tengah mempersiapkan pembangunan transportasi kereta ringan LRT yang kajiannya sudah dilakukan pada 2017 lalu. Pascakajian, kami tindaklanjuti dengan penawaran rencana bisnis itu kepada pihak swasta ataupun stakeholder pada tahun 2018 ini," kata Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) DIY Sigit Sapto Raharjo di Yogyakarta, Rabu (31/1/2018).

Baca Juga :

Tol Yogya-Bawen Ikuti Jalur Selokan Mataram
Tol Yogya-Bawen, 2019 Mulai Konstruksi
Investor Malaysia Lirik Tol Cilacap-Yogyakarta

Sigit menjelaskan, LRT tersebut akan menghubungkan wilayah Kabupaten Sleman-Kota Yogyakarta-Kabupaten Bantul-Kabupaten Kulonprogo atau dari batas kota ke pusat kota menuju kawasan Selatan yang diakhiri di NYIA dengan total panjang 75 km. Jalur LRT akan dimulai dari Tempel-Jombor (Sleman)-Stasiun Tugu (Yogya)-Parangtritis-Samas-Srandakan (Bantul) sepanjang 44,22 km, dilanjutkan ke Stasiun Sentolo-Stasiun Wates-Stasiun Kedundang Temon (Kulonprogo) sepanjang 30,33 km.

"Pembangunan jalur LRT itu akan memanfaatkan jalur kereta api yang sudah ada (eksisting) dan di kawasan yang padat dibangun melayang atau di atas tanah. Dari kajian yang dilakukan, pembangunan jalur LRT ini membutuhkan lahan setidaknya 2.500 hektare, paling banyak di Bantul seluas 1.500 hektare dengan anggaran bisa mencapai Rp 2,5 triliun," papar Sigit.

Mantan Penjabat Asisten Perekonomian dan Pembangunan Setda DIY dan mantan Penjabat Bupati Bantul ini menyampaikan, dalam kajiannya pembangunan LRT tersebut akan menggunakan jalur kereta api yang sudah ada dan melayang sehingga tidak mengganggu aktivitas masyarakat serta meminimalisir pembebasan lahan. Selain itu, untuk kawasan Selatan pembangunannya akan mendekati Jalur Jalan Lintas Selatan (JJLS) menuju Bandara NYIA di Temon Kulonprogo.

"Rencana bisnis ini ditawarkan kepada stakeholder kira-kira pembangunan LRT ini menguntungkan atau tidak. Jika pembangunannya menguntungkan baru akan disusun Detail Engineering Design (DED), sosialisasi dan ditawarkan kepada pihak swasta," imbuh Sigit.

Sekda DIY Gatot Saptadi membenarkan adanya rencana tersebut. Nantinya Pemda DIY akan menawarkan hal itu kepada pihak swasta. Soal konsep yang mau ditawarkan tergantung dari pihak swasta. Mengingat untuk pembahasan detail soal LRT antara Pemda DIY dengan swasta belum ada, karena sifatnya masih penawaran.

"Konsepnya kerja sama pemerintah dengan badan usaha. Apabila nantinya pihak swasta ada yang berminat, maka mereka yang akan mengajukan desain. Jadi kita tunggu saja desain yang nantinya mereka ajukan seperti apa," ungkap Gatot.

Menurut Gatot, untuk melakukan percepatan terhadap sejumlah program strategis, Pemda DIY tidak mungkin hanya mengandalkan dana dari APBD atau APBN. Karena selain alokasi anggaran yang terbatas juga membutuhkan waktu cukup lama.

"Kalau ditanya soal apakah sudah ada pihak swasta yang tertarik, secara lisan memang sudah ada. Tapi untuk secara formalnya memang belum ada, jadi belum ada pembicaraan secara detail," ujar Gatot. (Ira/Ria)

 

BERITA REKOMENDASI