Mirip Pebalap MotoGP, ‘RHK’ Bentuk Adaptasi Kebiasaan Baru di Jalan

YOGYA, KRJOGJA.com – Berbagai upaya terus dilakukan untuk memutus mata rantai penyebaran Covid-19, termasuk di jalan raya. Hal itu bisa dilihat dari adanya Ruang Henti Khusus (RHK) sepeda motor di sejumlah titik, terutama di traffic light (lampu pengatur lalu lintas) di DIY.

Layaknya pembalap MotoGP di garis start, dengan adanya RHK, pengguna jalan harus berhenti di garis putih dan berjejer rapi dengan jarak yang sudah diatur, saat menunggu lampu merah berganti hijau. Keberadaan RHK dimaksudkan agar masyarakat tetap menjaga jarak saat di pemberhentian lampu lalu lintas. Mengingat di tengah pandemi Covid19 aktivitas pengguna jalan raya kembali normal.

“Marka Ruang Henti Khusus (RHK) sepeda motor di persimpangan jalan ini awalnya dimaksudkan untuk mengurangi konflik antarjenis moda. Penempatan di posisi depan diharapkan akan memperlancar arus saat hijau. Karena sepeda motor lebih responsif untuk berubah dari posisi berhenti ke posisi laju. Kemudian perluasan tujuan RHK dengan social distancing merupakan pengenalan Adaptasi Kebiasaan Baru untuk lebih teratur di jalan,” kata peneliti di Pusat Studi Transportasi dan Logistik (Pustral) UGM Dr Arif Wismadi kepada KR di Yogyakarta,
Minggu (26/7).

Menurut Arif, salah satu sisi baik dari adanya RHK adalah bisa meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap situasi baru dalam pandemi Covid-19 yang akan memperbaiki budaya tertib sampai setelah pandemi berakhir. Sehingga kebiasaan tidak teratur saat berhantu di persimpangan jalan bahkan kadang mengambil ruang jalan dari arah berlawanan bisa dikurangi. Adapun hal yang harus diantisipasi adalah panjang antrean yang bertambah karena renggangnya jarak antarkendaraan.

“Dengan adanya RHK ini masyarakat diharapkan mulai membiasakan diri bagi pengguna kendaraan roda dua untuk tertib berhenti di ruang khusus yang telah disediakan. Adanya physical distancing yang diterapkan diharapkan bisa membantu para pengguna jalan agar terhindar dari penularan Covid-19,” terangnya.

Arif menyatakan, pembuatan RHK harus dapat mempertahankan tujuan utama mengurangi konflik dan kelancaran, sehingga luasan ruang atau panjangnya tidak harus menampung seluruh sepeda motor yang berhenti di simpang tersebut. Secara teknis harus dicermati juga cycle timeAPILL, lebar jalan, jenis simpang, geometrik jalan serta aspek lain untuk tujuan keselamatan dan kelancaran. Apabila hal itu bisa dilaksanakan, tidak hanya ketertiban lebih baik, namun juga pesan kesadaran penting Adaptasi Kebiasaan Baru dapat tersampaikan. (Ria)

BERITA REKOMENDASI