Mitra Pengantar Barang Online Sering Mogok, Ternyata ini Yang Dituntut

Editor: Ivan Aditya

YOGYA, KRJOGJA.com – Banyaknya mitra pengantar barang online ataupun offline melakukan aksi mogok di sejumlah tempat bahkan sempat viral di media massa seharusnya mendapatkan perhatian pemerintah. Padahal insentif menjadi salah satu komponen pendapatan para driver guna memenuhi kebutuhan sehari-hari.

“Selama ini yang diatur adalah tarif dasar transportasi online penumpang sebagaimana diatur dalam Permenhub Nomor 12 Tahun 2019 dan turunanya Permenhub Nomor 348 Tahun 2020. Sedangkan ketentuan khusus yang mengatur tarif minimum pengiriman barang belum ada. Termasuk aturan jelas mengenai jaminan pendapatan dasar,” ungkap Peneliti Muda Institute Government Public Affair-Magister Administrasi Publik Universitas Gadjah Mada (IGFA-MAP UGM) Arief Novianto saat dikonfirmasi.

Arif menyebutkan kekosongan aturan ini menyebabkan para driver mitra sering melakukan aksi protes lantaran aplikator menentukan tarif seenaknya. Misal dalam kasus pengiriman 8 karangan bunga duka cita dan aksi mogok di kantor Gojek Jabodetabek dan Bandung. Para driver melakukan aksi mogok untuk layanan Gokilat dimulai Selasa, 08 Juni 2021 selama tiga hari sebagai wujud protes kepada perusahaan.

Masalah tersebut ramai dibicarakan warganet melalui hastag GoTo (#GoTo), sehingga memancing banyak komentar. Bahkan, Arief sempat mengunggah peristiwa itu melalui akun twitter resminya@arifnovianto_id) bahwa Karangan bunga (KB) sudah ditaruh di Kantor Gojek. Sempat terjadi sedkit keributan karena pihak Gojek menolak KB ditaruh di luar pagar, alasanya agar tidak diambil Satpol PP. Pihak driver kecewa dng tindakan trsbut & menilai sbgai cara agar masy tak tahu bhwa ada problem di Gojek” tulis Arif Novianto.

Dia menilai kebijakan penurunan insentif para driver mitra berdampak pada menurunkan pendapatan sehari-hari. Kebijakan baru itu menyebutkan insentif akan diberikan bagi mitra GoSend yang berhasil melakukan pengantaran pertama sampai sembilan yang tiap pengantaran selesai bernilai Rp1.000 untuk wilayah Jabodetabek.
Sedangkan untuk pengantaran kesepuluh sampai 14 akan naik menjadi Rp2.000 per pengantaran dan pengantaran kelima belas dan seterusnya akan meningkat menjadi Rp2.500 per pengantaran.

“Jika dibandingkan dengan skema sebelumnya, insentif yang didapat mitra GoSend saat ini dinilai lebih kecil. Padahal dalam sistem bonus sebelumnya, mitra GoSend akan mendapatkan insentif setelah menyelesaikan lima pengantaran yang besarannya mencapai Rp10.000,”paparnya.

Arief menjelaskan angka tersebut akan meningkat hingga Rp100.000 jika mitra GoSend berhasil menyelesaikan 15 pengiriman dalam satu hari. Karena itu, jika sebelumnya mitra yang mengirim 15 paket mendapat bonus Rp100.000,- maka sekarang mereka hanya mendapat Rp37.500.

“Artinya pendapatan driver mitra berkurang sampai 70 persen. Insentif sendiri menjadi harapan driver untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. sebagian besar para driver menggantungkan hidup dari insentif ini sehingga mendesak pemerintah turun tangan dan mengeluarkan aturan baru teekait tarif dasar pengiriman barang atau makanan guna mengatasi masalah ini,” tegasnya.

Arif menambahkan masalah ini terjadi pada driver mitra pengiriman barang atau perusahaan penyedia aplikasi. Aksi serupa akan terus berulang karena memang ada kekosongan payung hukum. Bahkan, akibat kebijakan yang dirasakan ganjil, ada driver yang tidak mendapatkan order sama sekali.

“Kami akan terus mendesak pemerintah untuk cepat bertindak. sampai saat mitra driver masih terus berhitung berapa ideal tarif dasar pengiriman barang atau makanan. Termasuk menghitung beberapa komponen dasar sebagaimana diatur dalam Permenhub Nomor 12 Tahun 2019 seperti bahan bakar, pulsa telepon, biaya penyusutan kendaraan bermotor hingga jaminan kesehatan dan UMR agar jaminan pendapatan dasar para driver mitra terpenuhi,” tandasnya.

Arif Novianto juga sempat memposting Kurir Shopee Express (SPX) disebut-sebut melakukan mogok kerja dan berdampak terhadap kiriman paket dari Shopee Indonesia untuk penggunanya.

Melalui akun Twitter pribadinya, @arifnovianto_id yang dikutip, Senin (12/4/2021). Sejak lima hari yang lalu, kurir Shopee Express di Bandung Raya melakukan mogok kerja dengan jumlah sekitar 1.000 orang.

Mereka protes karena upahnya diturunkan dari 5.000/paket, 3.500/paket, 2.500/paket, dan pada awal April menjadi 1.500/paket. Mereka tak dapat upah minimum dan jaminan sosial,” tulis Arif.

Dia menjelaskan sementara di Jabodetabek, karena belum terorganisir, para kurir banyak yang memilih resign dari Shopee Ekspress akibat kebijakan tarif terbaru yang ditetapkan.

Arif mengklaim dampak dari pemogokan mitra Shopee Express telah membuat barang-barang di gudang menumpuk dan belum dikirimkan ke konsumen. Pemogokan ditempuh oleh himpunan driver untuk menuntut manajemen Shopee memberikan kerja layak ke kurir Shopee Ekspess.

“Jika upah mereka diturunkan jadi 1.500 setiap paket yang mereka kirim ke konsumen, maka kondisi kerja mereka akan semakin berat. Rata-rata satu paket diantar ke konsumen itu membutuhkan waktu 10 menit, jadi anggap saja 6 paket/jam. 8 jam= 48 paket = 72.000. Motor dan bensin dari driver,” jelasnya.

Dia menyebut 10 menit per paket itu apabila letak penerima paket jaraknya berdekatan. Jika agak jauh bisa menghabiskan waktu 30 menit/paket. Belum lagi kurir harus menghubungi penerima yang kadang tidak di rumah atau alamatnya salah.

Jumlah paketan yang harus dikirim oleh kurir dalam sistem kerja di Shopee Ekspress, lanjutnya, diatur oleh ketua tim di tiap kecamatan. Jika paket menumpuk, apalagi saat promo, maka setiap rider bisa harus mengirimkan 125 paket/hari, sehingga harus membuatnya kerja lebih dari 14 jam.

Sementara, Executive Director Shopee Indonesia Handhika Jahja dengan tegas membantah isu tersebut. Operasional Shopee Express (SPX) dipastikan sampai saat ini tetap berjalan normal dan lancar serta tidak ada aksi demonstrasi atau mogok kerja oleh mitra pengemudi SPX.

“Perlu menjadi catatan bahwa para mitra pengemudi SPX memiliki kebebasan untuk memilih hari operasional kerja mereka,” katanya dalam keterangan resmi, Senin (12/04/2021).

Dia menjelaskan, perihal keterlambatan beberapa pengiriman, itu terjadi pada saat kampanye 4.4 Mega Shopping Day yang lalu, mengingat antusiasme yang tinggi dari para pengguna atas kampanye tersebut.

Handhika juga memastikan bahwa insentif untuk mitra pengemudi SPX sangatlah kompetitif di industri jasa logistik. Skema insentif Shopee selalu mengikuti peraturan yang berlaku di daerah.

“Contohnya, jika seorang mitra pengemudi SPX di wilayah Jabodetabek membawa 80 paket dalam sehari, mereka bisa mendapatkan insentif rata-rata senilai Rp2.213 untuk setiap paket. Sebagai ilustrasi, rata-rata upah per paket yang ada di pasaran berkisar Rp1.700 dan Rp2.000 oleh jasa logistik lainnya,” jelasnya.

Selain itu dia juga memastikan adanya perlindungan asuransi untuk para mitra pengemudi SPX agar dapat memberikan lingkungan kerja yang aman dan produktif. (*)

BERITA REKOMENDASI