Modus Pecah Kaca Marak, Coba Tips Berikut Ini

Editor: KRjogja/Gus

SALAH satu daya tarik pelaku kejahatan melakukan aksinya adalah setelah barang berharga di dalam mobil. Salah satunya dengan menutup kaca mobil dengan lapisan yang lebih gelap. Kepala teknisi bengkel modifikasi Kupu Kupu Malam Budi Iswanto mengatakan, sebenarnya tidak ada langkah pasti mencegah aksi pecah kaca mobil. Namun untuk pencegahan,  masyarakat bisa melapisi dengan kaca film. 

"Kalau ketebalan kaca film standarnya 0,8 hingga 1 milimeter. Masyarakat biasanya menggunakan prosentase kegelapan yang 60 persen,” terang Budi saat ditemui di kawasan Jalan Magelang Selasa (10/4).

Prosentase kegelapan 60 persen, lanjut Budi, masih memungkinkan pelaku kejahatan mengintip barang di dalam mobil. Jika ingin benar-benar tidak terlihat bisa menggunakan yang 100 persen. Namun sisi negatifnya saat mobil digunakan, keamanannya jadi berkurang.

"Kalau prosentase kegelapan kaca film 100 persen, orang tidak bisa melihat isi di dalam mobil. Tapi jadi kesulitan berkendara, apalagi saat akan parkir jadi sulit melihat obyek di dekat mobil," beber Budi.

Terkait alarm yang tidak berbunyi, Budi tidak bisa memastikan penyebabnya. Padahal pelaku biasanya menggunakan busi untuk memecahkan kaca mobil. Bahkan Budi juga heran kenapa busi bisa memecahkan kaca mobil. “Mungkin juga karena reaksi kaca berbenturan dengan kaca sehingga menyebabkan kaca mobil pecah,” urai Budi.

Namun pemasangan kaca film hanya upaya antisipasi. Menurut Budi agar tidak menjadi korban pecah kaca, masyarakat seharusnya jangan meninggalkan barang di dalam mobil. "Upaya pencegahan seharusnya dari kita sendiri. Jangan di mobilnya," tandas Budi.

Budi menambahkan, ada beberapa alarm yang bekerja berdasarkan sensor getar. Alarm mobil tersebut juga bisa diatur tingkat sensitivitasannya. Namun kebanyakan orang malas menggunakan hingga level 100 persen. Pasalnya jika ada suara motor yang menggeber saja, biasanya alarm langsung bereaksi. "Alarm mobil biasanya disetel sensitivitasannya 25 hingga 30 persen. Padahal dengan setelan tersebut, alarm baru bunyi jika terjadi tabrakan frontal atau benturan keras," ungkap Budi.

Budi mengatakan pernah mendapat konsumen yang mengganti kaca mobil karena jadi korban kejahatan. Salah satu konsumen sempat menceritakan jika kejadian pecah kaca itu sangat cepat. "Tiap bulan tidak mesti ada. Dulu konsumen pernah cerita kalau hanya diparkir sebentar kemudian menyebrang. Saat datang ke mobil lagi, salah satu kacanya sudah pecah," tutup Budi. (R-2/Bmp/Ayu)

BERITA REKOMENDASI