Morfologi Puncak Merapi Berubah, Konsentrasi Gas CO2 Meningkat

YOGYA,KRJOGJA.com – Analisis morfologi area puncak berdasarkan foto dari sektor Tenggara pada Bulan November ini menunjukkan adanya perubahan morfologi sekitar puncak. Yaitu runtuhnya sebagian kubah Lava 1954. Sedangkan berdasarkan analisis foto drone 16 November, teramati adanya perubahan morfologi dinding kawah akibat runtuhnya lava lama, terutama Lava 1997 (Selatan), Lava 1998, Lava 1888 (Barat) dan Lava 1954 (Utara).

“Yang runtuh adalah kubah-kubah lava lama. Sedangkan kubah lava baru belum muncul ke permukaan. Perubahan morfologi puncak akibat intensifnya aktivitas guguran. Data pemantauan ini menunjukkan proses desakan magma menuju permukaan,” terang Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Dr Hanik Humaida, Senin (30/11).

Adapun kegempaan selama November 2020 tercatat 1.069 kali gempa Vulkanik Dangkal (VTB), 9.201 kali gempa Fase Banyak (MP), 29 kali gempa Low Frekuensi (LF), 1.687 kali gempa Guguran (RF), 1.783 kali gempa Hembusan (DG) dan 39 kali gempa Tektonik (TT). “Intensitas kegempaan pada bulan ini 2-5 kali lebih tinggi dibandingkan bulan Oktober yang lalu,” ujarnya. Untuk deformasi Gunung Merapi yang dipantau dengan menggunakan EDM pada November ini menunjukkan adanya laju pemendekan jarak sebesar 11 cm/hari.

BERITA REKOMENDASI