Motif Batik Mengandung Nilai Budaya Tinggi

Editor: KRjogja/Gus

YOGYA (KRJogja.com) – Batik bukan sekadar torehan canthing pada selembar kain. Batik Yogyakarta-Solo disebut memiliki makna filosofi yang mengandung nilai budaya tinggi. Karenanya, pemahaman mengenai motif-motif batik perlu dilakukan agar tidak salah motif dalam mengenakan batik.

Pakar batik pemilik brand Sekar Kedaton, Dra GBRAy Murywati S Darmokusumo mengemukakan hal tersebut dalam pidato Dies Natalis ke-45 AKS AKK di Kampus Nitikan, Kamis (1/3). Pidato dies dengan tema ‘Nilai Adiluhung Batik Indonesia sebagai Daya Saing Bangsa’ juga membahas batik darah lain selain batik Yogyakarta. Sebelum pemotongan tumpeng Direktur AKS AKK Dra BRAy Sri Hardani Hadikusumo SU juga menyampaikan pidato.

Nilai filosofi batik itulah yang kemudian telah membuat UNESCO menobatkan batik sebagai 'intangible cultural heritage and humanity' pada 2009. Dan ini tentu dengan perjuangan panjang, karena pakar batik, pegiat pelestari batik dan pejuang batik lain telah memulai perjuangan itu sejak 2007. 

Menurut putri Sri Sultan Hamengku Buwana IX dengan KRAy Pintaka Purnama HB IX ini,  batik berawal dari sebuah titik menjadi ragam hias dengan nilai budaya tinggi hakikatnya mengandung tuntunan kehidupan. 

Dikemukakan, di Kraton ada  batik motif Parang Rusak Barong, yang hanya boleh dipakai raja. Melalui motif yang diciptakan Panembahan Senopati ini, dituntunkan bahwa seorang raja harus selalu hati-hati dan bisa menahan hawa nafsu. Sehingga akan dapat memimpin dengan bijak dan berbudi luhur. “:Bukankah  ini nilai filosofisnya tinggi bagi seorang pemimpin?” kata GBRAy Murywati bernada tanya.

Juga ada motif Wahtu Tumurun, Sebuah motif yang diciptakan Sunan Kalijaga untuk  diberikan pada Raden Patah ketika hendak dinobatkan sebagai Raja Demak. Motif yang mengandung beberapa gambar. Di antaranya, gambar mahkota melambangkan kekuasaan dalam memimpin kerajaan. Sedang bunga atau kusuma diharapkan senantiasa harum. 
Sedang gambar daun ubi jalar atau 'lung' hakikatnya mengajarkan raja harus senantiasa merakyat dan dekat rakyat. Sementara kukila atau burung merupakan tuntutan agar rakyat selalu berhati-hati dalam bertutur kata.

“Raja harus selalu menjaga 'lathi', kata-katanya,” ungkapalumnus FisipoL UGM tersebut.

Makna filosofis yang luar biasa ini disebut GBRAy Murywati Darmokusumo, hendaklah dipahami. Dengan demikian, ujarnya, jangan sampai salah mengenakan motif batik. Sehingga, pemahaman akan nilai-nilai filosofi menjadi penting dilakukan. “Nilai-nilai filosofi yang mengandung nilai budaya tinggi jangan sampai hilang dengna globalisasi. Sebab sekarang banyak yang baru namun tidak ada maknanya,” ungkap GBRAy Murywati. (*)

BERITA REKOMENDASI