Muhammad Edi Nurkholis, Wujudkan Cita-Cita Berkat Gabung Mitra JNE

Editor: KRjogja/Gus

Pada tahun 1995 Muhammad Edi Nurkholis, 54, menjalani hidup serba sederhana mengandalkan
penghasilan dari toko kelontong dan warung telepon (wartel) milik keluarga. Dia menyadari butuh
lebih banyak penghasilan untuk mewujudkan semua cita-citanya untuk keluarga dan masyarakat
sekitar. Sejak memutuskan membuka bisnis jasa pengiriman barang, semua cita-citanya terwujud
satu persatu.

Hidup terasa penuh tantangan bagi Edi di masa awal pernikahannya dengan sang istri pada tahun
1995. Sehari-hari, Edi mencari pemasukan lewat sembako dan kebutuhan sehari-hari yang dijual di
toko kelontong miliknya. Pria yang tinggal di Gedongtengen, Yogyakarta ini juga ikut mengelola
warung telepon (wartel) milik keluarga. Menurutnya penghasilan dari kelontong dan wartel tak
seberapa. Hanya cukup untuk makan sehari-hari.

“Waktu itu kelontong kami semi grosir jadi margin keuntungannya kecil sekali. Selain kelontong, saya
juga sempat bekerja di hotel di bagian pembukuan keuangan. Pokoknya apa saja saya kerjakan,”
kata Edi.

Bersama sang istri, Edi bahu membahu bekerja sekaligus mengurus kedua anak mereka yang masih
berusia balita. Pekerjaan yang bermacam-macam di tempat yang berbeda-beda terkadang membuat
Edi dan istri kewalahan ketika harus mengantar dan menjemput anak-anak mereka bersekolah.
Ternyata setelah semua itu, kebutuhan keluarga tetap tak seluruhnya terpenuhi. Edi mengaku
sempat menumpuk hutang untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Sehari-hari, hatinya diliputi
kecemasan. Pikiran tentang masa depan anak-anaknya dan cita-cita hidupnya memaksanya untuk
bergerak mencari penghasilan tambahan.

JNE

BERITA REKOMENDASI