Muhammadiyah Antisipasi Lonjakan Kasus Covid

Editor: Ivan Aditya

YOGYA, KRJOGJA.com – Muhamamdiyah meminta pemerintah bersikap tegas dan menutup tempat wisata yang mengabaikan protocol kesehatan (prokes). Viralnya gambar di pelbagai tempat wisata tanpa prokes membuat organisasi kemasyarakatan yang dilahitkan KHA Dahlan ini merasa sangat khawatir akan terjadi lonjakan kasus Covid-19. Untuk itu, Muhammadiyah lewat Muhammadiyah Covid-19 Command Centre (MCCC) segera melakukan antisipasi.

“Jangan sampai kami keteteran kalau terjadi apa-apa. Kami sedang harap-harap cemas, menunggu 2 minggu dari lebaran kemarin,” ujar Ketua Muhammadiyah Covid-19 Command Center (MCCC) PP Muhammadiyah, Dr Agus Samsudin dalam konferensi pers di Kantor P Jl Cik Ditiro, Senin (17/5) siang. Disebutkan, meski ada larangan mudik dan penyekatan sudah dilakukan dimana-mana namun dibukanya objek wisata yang kemudian dibanjiri pengunjung sangat mengkhawatirkan bagi peningkatan kasus Covid-19.

Sejak Jumat (14/05/2021), media dan media sosial telah menayangkan gambar dari pelbagai tempat wisata khususnya wisata pantai dari pelbagai kota di Indonesia. Dalam gambar tersebut tampak jelas, kerumuman wisatawan yang minimal tanpa masker. “Terus terang, kita mengkhawatirkan akhir Mei terjadi lonjakan kasus. Ini bisa mengerikan, apalagi masih ada ancaman virus varian baru. Kita melakukan antisipasi. Karena dari yang sudah terjadi itu dampaknya akan terlihat dua minggu ke depan,” tandas Agus Syamsuddin.

Kami berharap, ujarnya semua itu tidak terjadi dan kesiapsiagaan kami tidak digunakan. Karena kami sangat berharap semua baik-baik saja. Meski ada 3 hal yang sudah dilakukan MCCC untuk mengantisipasinya. “Pertama, persiapan SDM dan APD termasuk obat kalau terjadi ‘outbreak’. Kedua, persiapan tempat tidur-konversi dari regular ke bangsal covid. Selain itu yang ketiga adalah koordinasi natar-RS termasuk persiapan shelter tambahan,” jelasnya.

Terus terang Agus Syamsuddin mengemukakan, kekhawatiran ini muncul setelah ada warga yang tetap lolos mudik dan mobilitas warga untuk merayakan Idul Fitri yang cukup tinggi. Selain itu banyak warga berwisata tanpa protokol kesehatan dan arus kedatangan WNA di tengah-tengah penyekatan ketat bagi WNI. Hal ini masih ditambah ancaman munculnya varian Covid-19 yang berasal dari berbagai negara.

Agus menyebutkan, Muhammadiyah memberikan layanan perawatan pasien Covid-19 di 84 RSMA di seluruh Indonesia. Kemudian penyiapan shelter-shelter Covid-19 yang terkoneksi rumah sakit dan isolasi mandiri dirumah, tim perawatan jenazah protokol covid dan tim logistik yang akan mensuport bagi warga masyarakat ynag melaksanakan isolasi mandiri di rumah. “Semuanya kami tingkatkan kesiapannya mengantisipasi jika terjadi peningkatan kasus Covid-19,” ungkapnya. (Fsy)

BERITA REKOMENDASI