Muhammadiyah Kutuk Teror Bom Atasnamakan Agama

Editor: Ivan Aditya

YOGYA (KRjogja.com) – Pimpinan Pusat Muhammadiyah mengutuk keras insiden pengeboman yang terjadi beberapa hari lalu di sebuah gereja di Samarinda Kalimantan Timur. Muhammadiyah pun meminta masyarakat tak terpecah dan menaruh curiga pada kelompok atau agama tertentu.

Ketua PP Muhammadiyah Haedar Nashir kepada wartawan Rabu (16/11/2016) menyatakan rasa penyesalan mengapa insiden teror berupa pengeboman masih saja terjadi di Indonesia. Terlebih, pelakunya ternyata merupakan mantan narapidana atas kasus terorisme beberapa tahun silam.

"Kami sangat sesalkan apalagi rumah ibadat lagi-lagi yang menjadi sasaran hingga menimbulkan korban jiwa. Kami minta pemerintah kaji program deradikalisasi yang ternyata belum berjalan, jangan sampai ada generalisasi lagi menyamakan semua," terangnya.

Haedar juga mengharapkan masyarakat Indonesia kompak dalam memerangi kekerasan yang selalu identik terjadi dalam aksi teror. "Kita tak boleh toleransi semua kekerasan dan jangan saling curiga juga tapi kedepankan kerjasama dan rasa saling percaya dalam semua hal, Muhammadiyah masih yakin wilayah Indonesia yang punya kemajemukan masih banyak dan ruang untuk menjaga kondusifitas masih sangat besar," pungkasnya.

Gelombang penolakan atas kekerasan dan aksi teror terus terjadi di banyak daerah di Indonesia pasca kematian Intan Olivia Marbun (2) yang menjadi korban bom gereja di Samarinda. Banyak pihak yang kemudian menuntut negara benar-benar hadir untuk mencegah dan memberantas aksi kekerasan dan teror di wilayah Indonesia. (Fxh)

BERITA REKOMENDASI