Muhammadiyah Tidak Antiseni Budaya

Editor: Ivan Aditya

YOGYA, KRJOGJA.com – Muhammadiyah tidak antiseni budaya. Justru Muhammadiyah meyakini lewat seni dan budaya bisa menjadi sarana dan media dakwah, seperti halnya aktifitas Sayembara Desain Batik Muhammadiyah Kota Yogyakarta Tahun Ajaran Baru 2020/2021. Demikian diungkapkan Drs H Akhid Widi Rahmanto, Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Yogyakarta saat mengumumkan pemenang Sayembara Desain Batik Muhammadiyah Kota Yogya di Aula PDM, Jalan Sultan Agung Yogya, Sabtu (11/07/2020).

Dalam kesempatan itu pengurus PDM Kota Yogya juga menyerahkan buku Panduan Tahun Ajaran Baru 2020/2021 perwakilan SD-SMP-SMA/SMK Muhammadiyah. Tahun Ajaran Baru 2020/2021 di Muhammadiyah dimulai 13 Juli 2020 secara daring, Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ). Tampak hadir dan memberi sambutan Aris Tobirin MSi selaku Wakil Ketua Bidang Litbang Majelis Dikdasmen PDM Kota Yogya.

Menurut Akhid Widi Rahmanto, untuk membangun kebersamaan salah satunya dengan membuat seragam batik bagi Persyarikatan Muhammadiyah se-Kota Yogya. Membuat batik khas Muhammadiyah Kota Yogya. “Bagi PDM Kota Yogya ini sejarah punya batik khas Muhammadiyah dengan desain batik hasil sayembara,” ujarnya.

Untuk membuat batik khas Muhammadiyah tidak gampang. Maka cara yang ditempuh dengan disayembarakan/dilombakan membuat desain batik Muhammadiyah dengan ciri khas kota Yogya tentu saja dengan nilai dan filosofinya.

Sedangkan Dr HN Ahmad Ghojali MA, Ketua Panitia Sayembara Desain Batik Muhammadiyah Kota Yogya dalam sambutan pengantar mengatakan, setelah dinilai tim juri pemenangnya yakni Agung Sulistyo peringkat pertama, kedua Rahmad Agung Subekti dan ketiga diraih Dwiki Bastara. Pemenang mendapat piagam penghargaan, uang Rp 10 juta, Rp 3 juta dan Rp 2 juta.

Dijelaskan Ahmad Ghojali, sayembara itu bertema ‘Pendidikan Muhammadiyah Kota Yogyakarta Berkemajuan’. Tema itu berlatar belakang, Kota Yogya sebagai tempat lahirnya Muhammadiyah sekaligus Pusat Pendidikan Muhammadiyah haruslah menjadi jendela pendidikan dunia yang berkemajuan berbasis nilai-nilai lokal kota Yogyakarta. Selain itu, aktualisasi nilai-nilai tersebut diwujudkan melalui sentuhan kreativitas seni pada desain kain batik khas seragam siswa dan warga Persyarikatan Muhammadiyah secara bebas, elegan dan membanggakan.

Pemenang Sayembara Desain Batik, Agung Sulistyo, saat ditemui KRJOGJA.com mengaku senang karyanya berhasil menang. “Kalau ikut lomba desain batik menang sudah sangat sering. Kali ini yang paling membahagaikan, desain karya saya akan diproduksi secara massal,” ujar guru SLB 2 Yogyakarta tersebut.

Diakui, untuk bisa representatif sesuai tema harus kaya referensi tentang Muhammadiyah, identitas dan nilai-nilai lokalitas Kota Yogyakarta. “Itu yang saya visualkan dalam motif batik khas Muhammadiyah,” ucapnya. (Jay)

BERITA REKOMENDASI