Mulai Bersepeda, Perhatikan Limit Jantung

Editor: Ivan Aditya

YOGYA, KRJOGJA.com – Kejadian pesepeda meninggal dunia dengan dugaan kelelahan dan serangan jantung di Kulonprogo, Minggu (15/06/2020) menjadi keprihatinan banyak pihak terlebih saat bersepeda kembali jadi olahraga booming. Kesiapan fisik maupun stamina tetap perlu diperhatikan bagi seseorang sebelum mengayuh sepeda. Dengan demikian, kejadian serupa dapat diminimalisir dan tujuan utama dari bersepeda untuk menyehatkan badan dapat tercapai.

Septiyadi Pityanta, salah satu pegiat endurance cycling di Yogyakarta mengatakan tiap pesepeda sebaiknya mengetahui heart rate maksimal secara pribadi. Pasalnya, kemampuan kerja jantung orang per orang berbeda tergantung usia, latarbelakang tubuh, asupan serta pola hidup.

“Cara menghitung mudah, 220 dikurangi usia itu sudah ketemu heart rate maksimal. Lebih aman lagi dikurangi 30 persen. Jadi kita tahu limit masing-masing karena sangat penting dalam bersepeda,” ungkapnya ketika berbincang, Senin (15/06/2020).

Pesepeda terutama yang gowes bersama-sama terkadang hanya memuaskan gengsi semata dan malu apabila ‘dikewer’ rekan-rekannya. Padahal, justru sangat berbahaya ketika memaksa untuk mengikuti padahal kerja jantung sudah maksimal.

“Padahal kapasitas tubuh tiap orang berbeda. Orang terlatih beda dengan yang tidak. Orang punya basic fisik misalnya mantan atlet akan beda dengan orang awam yang belum pernah rutin berlatih,” sambung dia.

Septiyadi yang juga relawan PMI Sleman juga mengingatkan pentingnya pengetahuan pesepeda untuk melakukan pertolongan pertama ketika ada rekan yang mengalami kolaps karena serangan jantung saat bersepeda. Jenis pertolongan pertama yang bisa dilakukan awam yakni ABC (Airway Breath Circulation) yakni membuka jalur nafas sambil memanggil petugas medis dari faskes terdekat. (Fxh)

BERITA REKOMENDASI