Napak Tilas Perjuangan Meriahkan Museum Sandi Community Program 2018

Editor: Agus Sigit

YOGYA, KRjogja.com – Museum Sandi menggelar kegiatan bertajuk Museum Sandi Community Program (MSCP) 2018, Sabtu (28/7). Kegiatan reguler tahunan ini diisi dengan rangkaian acara berupa napak tilas, talkshow, dan ditutup dengan pagelaran seni budaya wayang kulit.

Kegiatan napak tilas digelar di Kabupaten Kulonprogo menelusuri rute jalan kaki yang dilalui oleh insan persandian dari Dekso–Banaran–Dukuh. Rute tersebut memiliki latar sejarah perjuangan insan persandian dalam mengawaki pengamanan komunikasi pemberitaan semasa agresi militer terjadi.

Sebelum napak tilas dimulai, peserta mengikuti upacara pembukaan di sebuah tanah lapang di Dekso. Titik awal ini, pada kurun tahun 1949, merupakan situs pos pemeriksaan keamanan, sebelum seseorang memasuki daerah markas pertahanan gerilya yang ada di Banaran yang dipimpin oleh T.B. Simatupang, Kepala Staf Angkatan Perang. 

Peserta dilepas oleh Kepala BSSN, Djoko Setiadi, untuk berjalan menuju salah satu rumah penduduk di Banaran yang pada waktu itu digunakan sebagai markas Kepala Staf Angkatan Perang.

Di situs Banaran peserta mendapatkan penjelasan terkait profil Kepala Staf Angkatan Perang beserta markasnya tersebut. Selanjutnya peserta meneruskan perjalanan ke situs Rumah Sandi Dukuh yang pada waktu itu merupakan rumah salah satu penduduk yang digunakan menjadi markas insan sandi pengawak pengamanan pemberitaan dan komunikasi Kepala Staf Angkatan Perang.

Rumah tersebut merupakan saksi bisu berbagai aktifitas insan persandian kala itu dalam membuat sistem sandi, mencermati perkembangan keadaan memalui radio dan pengupasan kode musuh, dan kirim – terima berita sandi menghubungkan kantong perlawanan gerilya para pejuang bersenjata dengan para pejuang diplomasi di luar negeri.

Setelah peserta napak tilas sampai di situs Rumah Sandi Dukuh, peserta mengikuti kegiatan talkshow yang menghadirkan narasumber ahli dan pelaku sejarah untuk secara mendalam bersama-sama mengulas dan mendiskusikan peran perjuangan pengamanan pemberitaan dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan indonesia. 

"kegiatan tersebut bertujuan mewariskan pengalaman perjuangan, rasa cinta tanah air, dan nilai juang para pahlawan. peserta diharapkan mampu mempelajari dan memaknai ilmu pengetahuan dan peran persandian dalam mempertahankan kemerdekaan sehingga dapat menumbuhkan nilai-nilai kejuangan dan patriotisme pada sesi ini," kata Kepala BSSN, Djoko Setiadi disela kegiatan.

Puncak Kegiatan MSCP 2018 adalah pagelaran seni budaya wayang kulit dengan menghadirkan dalang Ki Gebes Taat Sumbogo, seorang prajurit TNI AL yang kesehariannya berdinas di Lanal Yogyakarta. Pagelaran wayang kulit digelar di pelataran Museum Sandi, Kotabaru, Kota Yogyakarta, mengambil lakon “Pandawa Mbangun Pura Kencana” dengan dimeriahkan bintang tamu Dalijo. 

Acara ini dihadiri oleh Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, Kepala BSSN, Jajaran pejabat pemerintah daerah, TNI dan Polri di Yogyakarta, kepala museum, tokoh masyarakat, dan warga sekitar museum.

Sekilas tentang Museum Sandi

Museum Sandi merupakan museum sejarah yang dikelola oleh Badan Siber dan Sandi Negara.
Museum Sandi kini menempati gedung bersejarah, Kantor Kementerian Luar Negeri pada kurun tahun 1947an ketika ibukota negara berada di Yogyakarta. Museum Sandi yang beralamat di jalan Faridan Muridan Noto 21 Kotabaru, Yogyakarta ini diresmikan oleh Kepala Lembaga Sandi Negara, Djoko Setiadi, bersama Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X, dan Wakil Gubernur DIY, Paku Alam IX, pada tanggal 29 Januari 2014. 

Museum Sandi menampilkan berbagai koleksi dan khazanah sejarah persandian dunia. Visi Museum Sandi adalah menjadi wahana sosialisasi ilmu dan peran persandian dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan bagi generasi muda dalam rangka menumbuhkembangkan nilai kejuangan dan patriotsme.
 
Museum Sandi merupakan museum ramah anak yang buka setiap hari dengan tidak memungut biaya kunjungan. Museum Sandi secara berkala meng-update informasi dan koleksi dan terus mengembangkan sarana/prasarana pendukung pameran, dan menyediakan edukator serta berbagai fasilitas lainnya, diantaranya pendopo serbaguna, gazebo, tempat parkir, toilet, tempat ibadah, ruang komunitas, perpustakaan, dan taman/ruang terbuka hijau. Seluruh ruangan museum dilengkapi alat pengatur suhu ruangan dan koneksi internet. (*)

BERITA REKOMENDASI