‘Ndalem Djoyoningratan Sosrodipuran’ Saksi Tumbuhnya Perguruan Tinggi

YOGYA, KRJOGJA.com – Siapa sangka di tengah perkampungan Sosrodipuran Gedongtengen Kota Yogyakarta ada  bangunan menarik dan eksotik peninggalan masa Sri Sultan HB VII. Namun sayangnya, bangunan yang sempat menjadi saksi berdirinya dua perguruan tinggi di Yogyakarta yakni Akprind dan Universitas Proklamasi 45 ini kini mangkrak kehilangan pesona. 

Adalah Ndalem Djoyoningratan, bangunan yang dibuat masa pemerintahan Sri Sultan HB VII. Bangunan tersebut dihadiahkan kepada putra dalem Djoyoningrat yang kemudian pada perkembangannya difungsikan untuk banyak hal lain. 

KRjogja.com menjajal masuk menyelami lebih dalam Ndalem Djoyoningratan Sosrodipuran yang kebetulan sedang digunakan untuk Gebyar Pagelaran Seni Budaya, Minggu (30/12/2018). Di satu ruang utama, ada sebuah senthong yang konon milik Djoyoningrat namun tinggal sisa-sisanya saja. 

Dipan kayu serta sebuah tombak terpasang meski dari penampakan sudah tak lagi terawat, bahkan terbilang lapuk. Di lokasi yang juga pusat Ndalem Djoyoningratan tersebut, atapnya tak lagi utuh bahkan beberapa bagian sudah ambruk sehingga akan langsung basah bila hujan. 

Namun begitu, sisi magis masih kentara dan bisa membawa siapapun yang masuk melemparkan imaji ke masa lampau. Bagaimana bentuknya pada masa lalu hingga menjadi seperti saat ini, menjadi terpikirkan saat itu juga. 

KRjogja.com lantas berbincang dengan Rully Permana, salah satu perwkilan warga setempat yang juga menginisiasi kampung wisata Sosrodipuran. Rully menceritakan setelah tak lagi digunakan untuk rumah tinggal di periode 1960-an, Ndalem Djoyoningratan difungsikan sebagai kampus Akprind paling tidak hingga periode 1980-an. 

“Setelah Akprind pindah di Balapan lokasi hingga saat ini, rumah yang sudah dibangun di bagian belakangnya untuk kelas kemudian digunakan Universitas Proklamasi 45 paling tidak hingga 1995 sampai pindah ke Babarsari. Setelah itu tidak digunakan lagi dan mangkrak sampai sekarang. Mungkin di bagian depan (masih SD Netral) hanya digunakan untuk kumpulan warga atau Sholat Tarawih saat Ramadhan,” ungkapnya. 

Melihat kondisi inilah kemudian warga masyarakat setempat berinisiatif menyelenggarakan Gebyar Pagelaran Seni Budaya sejak 17 Desember 2018 lalu. Berbagai kegiatan seperti sarasehan, kirab, kethoprak, pesta rakyat hingga pameran seni dilakukan untuk menghidupkan kembali bangunan warisan budaya tersebut. 

“Kami ingin menghidupkan lagi lokasi ini, karena potensinya besar sekali. Harapannya d dengan agenda seni ini, instansi terkait melihat dan menaruh perhatian untuk memperbaiki bangunan Ndalem Djoyoningratan ini,” sambungnya. 

Suhardi, tokoh seni budaya Sosrodipuran juga menyampaikan bawasanya Ndalem Djoyoningratan adalah salah satu ikon penting di wilayah tersebut. Warga menurut dia memiliki rencana kedepan untuk mewujudkan Kampung Wisata melihat potensi kedekatan dengan kawasan Malioboro. 

“Warga terbuka berkolaborasi, saat ini dengan seniman tujuannya untuk menghidupkan lagi ikon Sosrodipuran. Ada Joglo untuk pertunjukkan seni, ada juga ruang pameran yang bisa dimanfaatkan. Harapannya dari seni budaya ini nantinya menarik wisatawan untuk hadir, karena mereka pasti suka dengan tradisi budaya kita,” tandasnya. (Fxh)

BERITA REKOMENDASI