Nih, Alasan Pilwali Kota Yogyakarta ‘Adem Ayem’

YOGYA (KRjogja.com) – Kurang semaraknya Pemilihan Walikota dan Wakil Walikota Kota Yogyakarta 2017 dirasakan oleh sebagian masyarakat. Bahkan, banyak dari mereka yang belum mengetahui rekam jejak calonnya.

"Kalau masalah cawalkot dan cawawalkot sementara belum ada gambaran, soalnya belum tahu tentang gimana calonnya,” ujar Luthfy Dwi Setiawan (18) yang merupakan warga Mantrijeron.

Begitu pula yang dirasakan oleh Imam Afif Fudin (18), warga tamansari tersebut hingga kini masih kebingungan akan pilihannya pada Pemilu 2017. Bahkan, kemungkinan terbesarnya adalah tidak memilih siapapun. Hal itu didasari atas kekecewaannya pada pemerintahan yang sekarang.

Dosen Ilmu Komunkasi Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY) Lukas S. Ispandriarno menjelaskan faktor utama dinginnya Pilwali Kota Yogyakarta adalah adanya pembatasan kampanye, termasuk melalui media massa. Calon walikota dan wakil walikota  tidak bisa berkampanye sendiri.

"Setiap program kampanye terlebih dahulu harus mendapatkan izin dari Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Yogyakarta. Saya menguatirkan tingkat partisipasi pada Pilwalikota 2017 menurun. Golongan putih (golput) akan semakin tinggi," ungkapnya. 

Lukas menambahkan adapun faktor pendukung adalah karena kedua calon pasangan walikota dan wakil walikota merupakan pasangan petahana. Padahal, masyarakat Yogyakarta menghendaki sosok pemimpin yang baru. "Warga Yogya sebagian menghendaki susatu yang baru, sosok baru. Meskipun itu ada dalam pasangan, tapi kan mereka tidak menentukan, kan yang menentukan tetap walikota atau calon walikota, bukan wakilnya,” imbuhnya. (Mg-10)

BERITA REKOMENDASI