Nilai Kearifan Lokal Masih Melekat di Kampung Gamelan, Nih Buktinya..

KERATON Yogyakarta adalah pusat pemerintahan sekaligus kediaman raja beserta keluarga kerajaan. Guna menjalankan kedua fungsi tersebut, dibutuhkan sumber daya manusia yang memadai. Untuk itu Keraton Yogyakarta memiliki Abdi Dalem yang memiliki tugas-tugas tertentu. Tiap kelompok Abdi Dalem mendapatkan pemukiman sendiri yang tidak jauh dari area keraton. 

Beberapa di antaranya ditempatkan di dalam benteng keraton yang menjadi pusat dari perkembangan kota Yogyakarta. Salah satunya adalah kampung Gamelan. Kampung Gamelan merupakan tempat tinggal Abdi Dalem Gamel yang bertugas mengurus kuda milik Sultan. Secara administratif kampung ini berada di wilayah Kelurahan Panembahan, Kecamatan Keraton. 

Kampung Gamelan merupakan salah satu kampung yang masyarakatnya masih menggunakan nilai-nilai kearifan lokal dalam menjalani kehidupan sehari-hari sebagai usaha untuk memelihara keharmonisan. Warga Kampung Gamelan memiliki budaya gotong royong yang masih terjaga dengan baik. Gotong royong atau kerja bakti rutin dilakukan oleh warga di minggu pertama setiap bulan. Selain kerja bakti, warga juga melaksanakan kegiatan jalan bersama yang dilakukan setiap bulan untuk menjaga kebersamaan. Untuk menjaga keharmonisan sekaligus menghormati sejarah yang pernah ada di Kampung Gamelan, setiap tanggal 17 Agustus akan diadakan upacara di Monumen Perjuangan Rumah Makan Sate Puas setiap tahunnya yang akan diikuti juga oleh Kampung Namburan, Siliran, dan Mantrigawen.

Warga Kampung Gamelan memiliki budaya toleransi yang selalu dilestarikan. Relasi antar umat beragama terjalin dengan baik dan rukun. Hal ini terlihat ketika umat muslim melaksanakan ibadah salat id pada Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha di alun-alun, warga nonmuslim bertugas menjaga kampung dan menyediakan hidangan makanan serta minuman, yang akan dinikmati bersama sambil bersilatuhrami nantinya ketika umat muslim selesai melaksanakan ibadah salat. Selain itu, terdapat tradisi Ruwahan yang dilakukan setiap menjelang bulan puasa dimana setiap warga membuat ketan, gula, apem dan kolak kemudian berkunjung ke tiap rumah tetangga untuk memberikan dan saling berbagi ketan, gula, apem.

Kampung Gamelan memiliki paugeran atau hukum adat yang dipegang erat, yaitu peraturan mengenai tata bangunan. Dimana bangunan rumah yang ada di Kampung Gamelan tidak boleh bertingkat, dan tidak boleh ditempati apalagi dimiliki oleh orang non-pribumi. Kampung Gamelan juga memiliki aturan hukum sendiri yaitu berupa norma atau hukum tidak tertulis, namun masyarakat sangat patuh akan keberadaan aturan tersebut.(Febriyanto Dian Nugroho)

BERITA REKOMENDASI