‘Noise Bombing Festival’ Bakal Bisingkan Jogja Akhir Pekan Ini

Editor: KRjogja/Gus

YOGYA, KRJOGJA.com – Jogja Noise Bombing Festival merupakan pertunjukan noise atau eksperimental yang digagas komunitas Jogja Noise Bombing. Tujuannya sederhana: merayakan dan mengenalkan kepada publik yang lebih luas tentang noise, distorsi, tools, performance, dan eksistensi noise maker di Yogyakarta.

Jogja Jogja Noise Bombing Festival (JNBF) adalah kegiatan yang melibatkan para pelaku, pemerhati, dan penikmat kebisingan di Yogyakarta. Acara ini merupakan agenda tahunan dari Jogja Noise Bombing sejak 2013 lalu. Untuk tahun ini, festival akan digelar dua hari, sejak Sabtu (26/1) hingga Minggu (27/1). 

Para penampil yang akan ikut berpartisipasi berasal dari 14 negara antara lain Serbia, Jepang, USA, Kanada, Malaysia, Singapura, Perancis, Korea Selatan, Italia, Spanyol, Brazil, Jerman, Siberia serta dari Indonesia. Di tiap penyelenggaraannya JNBF selalu menghadirkan sajian spesial ke pecinta musik.

Tahun ini festival musik skala internasional ini bakal memainkan musik noise di area publik Sabtu (26/1) hari ini. Ada Karnivulgar (Surabaya), Bergegas Mati (Malang), Anxiety Alone, NRYY (Japan), Doa Dan Dosa (Solo), Giga Destroyer, ASU(USA), dan Naoto Yamagishi (Japan) yang bakal merespon sejumlah ruang publik di Yogya.

Lalu malam harinya ada peluncuran buku "Jogja Noise Bombing: From The Street To The Stage" di Indonesia Visual Art Archive (IVAA) yang ditulis Indra Menus dan Sean Stellfox. Perayaan ditutup pertunjukkan JNB di Amphitheater Taman Budaya Yogyakarta. Bakal ada Ignaz Schick (Germany), Womboom (Malang), Yapok Yakutia (Brazil/Siberia), SitbQ (South Korea), PGR (Italy), Dios De Techno (Spain), Yuko Araki (Japan), George Rahi (Canada), Tenggara Trio x Darren Moor, (Indonesia/Malaysia/Singapore), Theonugraha x LNDG (Samarinda/Jakarta), JagaJaga (Bali), Logic Lost (Jakarta), dan Kumah (Serbia).

JNB adalah sebuah kolektif yang fokus untuk membuat bebunyian dan mengolah kebisingan menjadi sebuah bentuk karya estetis. Bunyi-bunyian dan kebisingan yang diperoleh dari lingkungan sekitar dan juga suara dari alat-alat elektronik sengaja dimanipulasi untuk menghasilkan musik ber-genre Noise.

Sekumpulan orang-orang yang kini tergabung dalam komunitas Jogja Noise Bombing, mengawali aktivitas mereka dengan aksi ilegal Noise Bombing hingga kemudian mendapatkan kesempatan untuk membuat acara khusus bagi musik yang mereka mainkan yaitu musik Noise. Melalui komunitas Jogja Noise Bombing, noise yang semula dikenal sebagai sesuatu yang bising dan mengganggu pendengaran, kini diolah menjadi sebuah musik dan menjadi sebuah fenomena musik yang mampu mengundang perhatian masyarakat di dalam maupun di luar kota Yogjakarta lewat aksi-aksinya. 

Mereka menawarkan suatu kultur alternatif baru bagi mereka yang merindukan pergerakan-pergerakan musik bawah tanah. Melalui permainan musik yang dipelajari secara otodidak, improvisasi bebas tanpa batas beserta pemahaman teknis dari masing-masing alat dan sumber bunyinya menjadi acuan utama dalam membuat karya noise mereka. (Des)

 

BERITA REKOMENDASI