Padukan Bakat Alam dan Intelegensi, Cetak Pebulutangkis Kelas Dunia

Editor: Ivan Aditya

KOMPETISI Kompetisi bulutangkis dunia saat ini sangat ketat, tidak hanya persaingan para pemain berasal dari Asia dan Eropa. Di luar ‘Benua Bulutangkis’ juga muncul pebulutangkis yang turut meramaikan peta perbulutangkisan dunia. Salah satu di antaranya Kevin Haroldo Cordon Buezo (Kevin Cordon) asal Guetemala, yang berhasil menembus semifinal Olimpiade Tokyo 2020. Sukses Kevin Cordon tidak lepas dari peran pelatih asal Indonesia Muamar Qadafi.

Ada lagi nama Gronya Somerville, pebulutangkis asal Australia yang saat ini menempati peringkat ke-26 dunia di sektor ganda putri. Bergelut dengan bulutangkis sejak umur 12 tahun, Groya Somerville pada akhirnya mampu menembus percaturan bulutangkis dunia lantaran campur tangan pelatih asal Indonesia Aji Basuki Sindoro. Mantan pemain nasional Indonesia kelahiran Klaten (Jateng) ini seangkatan Rexy Mainaky, yang pada akhirnya jadi pasangan dalam melatih di Inggris dan Malaysia.

Aji Basuki Sindoro (39) yang saat ini melatih klub Griya Bugar Yogya, Jumat (03/09/2021) mengungkapkan saat ini percaturan bulutangkis dunia tidak sebatas diisi oleh pebulutangkis asal China, Indonesia, Malaysia, Thailand, Jepang, Korsel, Denmark, Inggris, dan Swedia. Negara-negara yang sebelumnya kurang diperhitungkan dalam percaturan bulutangkis, mulai menyita perhatian. Sebut saja Carolina Marin (Spanyol), Tai Tzu Ying (Taiwan), dan Pusarla Venkata Sindhu (India). Mereka mampu menyodok ke posisi papan atas bulutangkis dunia.

Menurut Aji Basuki yang pernah membantu Rexy Mainaky melatih timnas bulutangkis Inggris dan Malaysia (kurun waktu2002-2005) dan menangani tim nas bulungkas Australia (2006-2008), saat ini para pebulutangkis memadukan bakat alam dan intelegensi. Permainan bulutangkis modern tidak semata-mata mengandalkan otot kawat balung wesi (tenaga), tetapi harus juga memperhatikan masalah teknik dan strategi. Jika semata-mata menomorsatukan tenaga, nantinya akan kelelahan sendiri ketika menghadapi pemain yang cerdik dan berteknik tinggi.

“Contohnya, tunggal putra Denmark Viktor Axelsen (juara tunggal putra Olimpiade Tokyo 2020) merupakan pebulutangkis yang mengandalkan teknik dan strategi, daripada tenaga. Hal itu dimungkinkan karena Viktor Axelsen memiliki latar belakang pendidikan akademis yang tinggi,” jelasnya.

Menurut Aji Basuki, saatnya sekarang para pebulutangkis Indonesia memperhatikan maslaah intelegensi saat bermain, dan itu bisa dicapai apabila para pebulutangkis mengeyam pendidikan tinggi, baik sebagai S1 atau S2. Jika hal itu bisa dicapai, maka perpaduan antara bakat alam dan intelegensi akan mampu mengangkat prestasi ke tingkat dunia.

“Sekarang rata-rata pebulutangkis dunia juga memikirkan pendidikan di tingkat Universitas untuk mengasah intelegensinya,” ujar Aji Basuki yang semasa aktif bermain bergabung di PB Djarum Kudus (1995-1998), PB Djarum Jakarta (1998-2001), dan Pelatnas Cipayung (2002-2004).

Ayah dua anak (Warren Valdy Khan dan Victoria Kana) hasil pernikahannya dengan Vika, memutuskan balik kandang ke Indonesia setelah beberapa saat melatih di Perancis. Namun demikian, Aji Basuki belum sempat menangani pebulutangkis di pelatmas, lantaran dirinya lebih suntuk di dunia bisnis.

Di sela-sela bisnis yang dijalani, dirinya masih menyempatkan diri melatih pebulutangkis yang bernaung di PB Griya Bugar. “Saya punya keyakinan, satu-dua pebulutangkis yang saya latih saat ini akan mampu menembus level nasional,” tandas Aji Basuki.

Tentu untuk bisa mencapai prestasi tingkat nasional dan internasional, menurut Aji Basuki tidak bisa hanya dengan latihan rileks, melainkan harus digenjot secara spartan. Aji Basuki kembali menandaskan pentingnya pebulutangkis meningkatkan intelegensi. Dalam bahasa sederhana, main bulutangkis tidak hanya mengandalkan otot tetapi juga harus disertai otak. (Haryadi)

BERITA REKOMENDASI