Pagi ini Siraman Calon Pengantin

YOGYA, KRJOGJA.com – Hajatan besar Pura Pakualaman dalam prosesi Dhaup Ageng 2019 antara putra sulung KGPAA Paku Alam X, BPH Kusumo Bimantoro ST dengan dr Maya Lakshita Noorya hanya tinggal sehari lagi. Sejumlah persiapan telah dirampungkan. Beberapa acara adat dalam tradisi pernikahan Jawa juga sudah dilangsungkan.

Ditandai dengan Pasang Tarub berupa pemasangan anyaman daun kelapa muda atau janur, kelapa gading, tebu, padi serta beberapa jenis dedaunan di beberapa titik penting lingkungan Pura Pakualaman, Rabu (2/1/2019). Dalam kesempatan tersebut juga dilakukan acara Majang dengan menata sejumlah kelengkapan yang dibutuhkan untuk prosesi pernikahan dan pahargyan pada Sabtu dan Minggu (5-6/1/2019) nanti.

"Seperti komitmen sejak awal bahwa Dhaup Ageng ini diselenggarakan mengikuti tatacara yang berlaku di Kadipaten Pakualaman," jelas Ketua Umum Penyelenggaraan Dhaup Ageng Pura Pakualaman 2019, KPH Indrokusumo.

Selain dua adat tradisi tersebut, kedua calon mempelai juga sudah menjalani prosesi Nyengker yang dimulai Kamis (3/1/2019) pagi. Prosesi ini ditandai dengan masuknya calon pengantin wanita beserta keluarganya ke lingkungan Pakualaman yang ditempatkan di Kagungan Dalem Kepatihan Pakualaman.

Prosesi yang juga dikenal dengan pingitan ini memiliki harapan dapat menyiapkan calon mempelai wanita lahir dan batin jelang pernikahan. Selain untuk mengenalkan berbagai adat dan tatacara yang ada di dalam Kadipaten Pakualaman.

"Selama pingitan, calon pentantin wanita dan pria tidak bo;eh bertatap muka. Keduanya baru akan dipertemukan saat Prosesi Panggih di bangsal Sewatama, Sabtu (5/1/2019) nanti. Bahkan saat ijab qabul calon mempelai putri juga tidak ada di lokasi acara. Biasanya prosesi adat ini dilaksanakan tujuh hari jelang pernikahan. Tapi saat ini menyesuaikan dengan tanpa meninggalkan nilai, pesan dan makna di dalam adat tradisi ini," jelas Ketua I Dhaup Ageng, KRT Radyowisroyo.

Pada Jumat (4/1/209) pagi ini secara hampir bersamaan, dua calon mempelai akan menjalani prosesi siraman. Untuk Siraman Putri akan dilakukan di Gandok Wetan Kepatihan Pakualaman. Sementara Siraman Putra akan digelar di Kagungan Dalem Parangkarsa Pakualaman. Dilanjutkan pada malam harinya ada prosesi Midodareni di dua tempat sekaligus, Kagungan Dalem Parangkarsa dan Kepatihan Pakualaman.

"Pada Jumat (4/1/2019) malam itu juga akan ada Tantingan sebagai salah satu tradisi pernikahan Jawa yang berlaku di dalam istana," sambung Radyowisroyo.

Barulah pada Sabtu (5/1/2019) pukul 07.30 WIB akan dilangsungkan akad ijab qabul di Kagungan Dalem Masjid Ageng Pakualaman. Sebelumnya, calon pengantin pria bersama keluarga dan kerabat dikawal dua bregada prajurit Pakualaman, Plangkir dan Lombok Abang akan berjalan kaki menuju Masjid Ageng melewati gerbang utama. Usai prosesi ijab qabul, pengantin pria akan kembali masuk ke Pura Pakualaman melalui jalur yang sama. 

Kedua mempelai baru akan dipertemukan dalam prosesi Panggih di Bangsal Sewatama pukul 10.00 WIB yang dilanjutkan dengan rangkaian upacara adat lain, seperti tampa kaya, dhahar klimah dan lainnya di Bangsal Witana Pakualaman. 

"Secara khusus, saat resepsi pertama, Sabtu (5/1/2019) siang akan dipergelarkan Bedhaya Kembang Mas yasan KGPAA Paku Alam X untuk mempelai. Bedhaya ini menggambarkan beberapa fase pertemuan calon pengantin hingga menuju jenjang pernikahan sekaligus berisi harapan dan doa agar keduanya menjadi pasangan lestari dilimpahi kesejahteraan dan kemuliaan," terang Radyowisroyo.

Selain itu Dhaup Ageng Pura Pakualaman 2019 ini juga mengangkat tema motif batik Surya Mulyarja yang bersumber dari iluminasi naskah Sestradisuhul (1847) pada masa Paku Alam II. Surya Mulyarja merupakan manifestasi karakter Batara Surya dalam Asthabrata.

"Surya Mulyarja merupakan soa atau harapan untuk meneladani karakter luhur Batara Surya. Tema ini akan dihadirkan dalam tiap-tiap bagian pada Dhaup Ageng ini," ucap pria yang akrab disapa Pak Toyo ini. (Feb)

BERITA REKOMENDASI