Paguyuban Pusaka Jogja Luncurkan ‘Cultural & Natural Mapping of Yogyakarta’

Editor: KRjogja/Gus

YOGYA, KRJogja.com – Karya kreatif inovatif yang digagas Paguyuban Pusaka Jogja (Jogja Heritage Society, JHS) dapat ditempatkan dalam upaya besar mengembangkan warisan budaya. Inisiatif mulia ini diawali dengan pemetaan pusaka alam dan budaya, sejak pendirian Nagari Ngayogyakarta oleh Pangeran Mangkubumi setelah Perjanjian Gianti tahun 1775.

Dirjen Kebudayaan Kemendikbud Hilmar Farid mengemukakan hal tersebut dalam pidato kunci I peluncuran Karya Kreatif Inovatif ‘Cultural & Natural Mapping of Yogyakarta’ yang dibacakan Kepala Balai Pelestarian Nilai Budaya DIY Dra Dwi Ratna Nurhajarini Mhum, Sabtu (12/12) di Mustokoweni Hotel. Selain Dirjen Kebudayaan, Wakil Kraton Yogyakarta KPH Notonegoro menyampaikan pidato kunci II.

Peluncuran website www.jogjaheritagesociety.org ditandai dengan pemotongan tumpeng robyong oleh Dwi Ratna yang diserahkan kepada Ketua JHS, Titi Handayani. Kegiatan dilakukan secara daring dan luring terbatas, dimeriahkan dengan Tembang Sekar Agung oleh KRT Manu Widyaseputra, pembacaan mantras Tirta Amerta dan tembang Mijil oleh Amos.

Hilman menyebutkan harapan agar inisiatif mulia ini dapat jadi momentum bersama Langkah pemamuan budaya di tengah pandemic yang meliputi kita hari-hari ini. “Kerja sama dan gotongroyong antardaerah dan antarpelaku budaya harus terus ditingkatkan. Kalau kita ingin sungguh-sungguh mengharapkan Indonesia menjadi superpower bidang kebudayaan,” tandasnya.

Karenanya menurut Dirjen Kebudayaan, kita perlu memberikan perhatian pada suara-suara yang datang dari budaya tradisi untuk membimbing kita berperilaku baik, dengan kepribadian budaya yang kuat. Dan atas dasar itu sebut Hilmar Farid, ikut mempengaruhi peradaban dunia. “Semua itu hanya akan terjadi apabila sumber rujukan budaya tradisi dijadikan inti dari kehidupan bersama sebagai masyarakat. Dan salah satu sumber rujukan itu adalah cagar budaya,” ujarnya.

Penyerahan potongan tumpeng robyong dari Dwi Ratna pada Ketua JHS JHS Titi Handayani

Cagar budaya menurutnya merupakan kekayaan budaya bangsa sebagai wujud pemikiran dan p[erilaku kehidupan manusia yang penting artinya bagi pemahaman dan pengembangan sejarah, ilmu pengetahuan dan kebudayaan. Arah dan cita-cita pelestarian cagar budaya dusebut Hilmar Farid adalah demi memajukan kebudayaan nasional untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.
Perlu Dilanjutkan

Sementara KPH Notonegoro berharap, apa yang dilakukan JHS merupakan langkah awal yang perlu dilanjutkan. Untuk keperluan ini, JHS dapat perlu memperluas ‘partnership’. Mungkin bisa melibatkan BPN yang mestinya memiliki peta lengkap bahkan kaum milenial. Agar bisa melihat teknologi pemetaan yang baru.

Menurut KPH Notonegoro, ada kebutuhan untuk konfirmasi, nanjihke untuk membuat bukti bagaimana Kota Yogyakarta dulu digagas. “Ada anggapan sejak paliyan nagari. Namun ada banyak pertanyaan yang belum terjawab. Mulai dari mengapa Pangeran Mangkubumi tidak menggunakan kembali Kotagede sebagai kratonnya yang baru? Karena tentunya kawasan kraton sekarang tentu bukang alas gung liwang-liwung, mengingat jarak yang tidak terlalu jauh dengan Kotagede. Dengan teknologi sangat mungkin pertanyaan-pertanyaan itu dapat terjawab,” sebut KPH Notonegoro.

Terkait kali larangan misal, lanjut mantu Dalem Sultan HB X, mengapa kemudian seakan hilang dan kita tidak menemukan lagi. “Meski saya menganalisa, kemungkinan ini terjadi karena hadirnya PDAM,” tambahnya. (Fsy)

 

 

BERITA REKOMENDASI