Pakai Tanah Ladu, Bibit Padi Bisa Ditanam

SAPARDI, petani Desa Glodongan Kecamatan Klaten Selatan, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah menggunakan tanah ladu untuk menyemai benih padi.  Cukup pada usia 15 hari bibit padi bisa ditanam. 

Usia muda akan menghasilkan anakan padi lebih banyak sehingga jumlah produksi meningkat.  Teknik semai media ladu juga menghemat tenaga kerja dan menekan biaya produksi. "Saya sudah tiga tahun menyemai padi tidak lagi dilakukan di sawah, tapi pakai cara ini. Saya dibantu delapan teman,” katanya. 

Sapardi menerima pemesanan pembuatan bibit sampai penanaman dengan ongkos Rp 200.000 untuk 1.000 meter persegi. Meski demikian atas ilmu yang dimilikinya ia tak segan berbagi dengan petani lain di sekitarnya.

Tanah ladu berfungsi menjaga akar bibit padi supaya tidak rusak saat dicabut ketika akan ditanam. Akar bibit cenderung mudah terurai ketika digenangkan pada air. Hal ini disebabkan oleh karakter tanah ladu yang gembur dan lembut. Petani tidak perlu mencabut bibit yang seolah memaksa akar untuk lepas dari media tanam.

"Jadi bibit padi tidak setres waktu ditanam. Akar padi tidak tersiksa, ibarat badan manusia yang dipukul pasti sakit, kan. Begitu juga dengan padi. Semai cara dapog tidak menyebabkan akar putus atau rusak. Selain itu tanam padi dengan cara semai ini juga mempercepat masa tanam,” katanya belum lama ini.

Ada persoalan pada ladu yang mempengaruhi proses semai. Pencemaran lingkungan di sungai seperti limbah sampah plastik. Untuk membersihkan ladu harus dilakukan penyaringan menggunakan ayakan pasir untuk memisahkan sampah dengan ladu. 

Dia menagakui selama ini masih sedikit petani yang menggunakan ladu sebagai media tanam. Padahal proses semai dapat dilakukan di pekarangan rumah. Petani tidak perlu pergi ke sawah untuk menyebar benih dan mencabutnya kembali (ndaut) saat menanam dilahan. Alasan tersebut yang membuat Sapardi mengatakan dapat menekan biaya produksi karena biaya tenaga kerja berkurang.

Cara menyemai hampir sama pada umumnya, hanya saja perlu alas untuk menaruh ladu. “Alasnya menggunakan dapog atau tray yang biasa digunakan untuk membuat bibit tanaman. Kemudian ladu dimasukan kedalam dapog sampai merata dan diatasnya ditaburkan benih (gabah) padi secara merata. Kemudian ditutup tipis dengan ladu lagi. Lalu disiram agar lembab. Setelah itu ditutup dengan karung selama dua hari,” terang Sapardi menjelaskan prosesnya.

Ditemui dirumah tampak halaman depan pekarangan rumah terdapat rak bambu yang tersusun ke atas. Rak bambu setinggi lima meter itu tertutup oleh atap. Guna atap sebagai penaung dari derasnya air hujan yang dapat merusak bibit. Tetapi tanaman masih dapat menyerap sinar matahari. 

Di sela-sela rak itu terdapat puluhan dapog beukuran panjang 60 cm dan lebar 30 cm warna hitam. Ada benih yang sedang muncul mata tunasnya setelah dua hari disemai. Ada pula bibit yang berusia sepuluh hari. Untuk menjaga kelembaban dalam sehari disiram dua kali.

Dapog untuk alas media tanam memiliki harga yang mahal, yakni Rp 40.000 perbuah. Sapardi mengatakan, bahwa setiap lima kilogram benih membutuhkan sekitar 35 Dapog. “Setiap lima kilo gabah itu membutuhkan 35 dapog. Untuk daerah sini itu bisa untuk menanam dengan luas lahan 1800 meter persegi”, katanya.

Meski harga beli mahal tapi petani bisa membuat duplikat dapog yang sesuai ukuran. Dengan bahan yang dapat dibeli ditoko sekitar. Selain membuat duplikat ada cara lain yang ditawarkan Sapardi, untuk wadah media tanam. Mulsa yang selama ini dimanfaatkan petani untuk jenis tanaman holtikultura juga dapat digunakan. Ketika petani tidak mampu membeli dapog maka mulsa baru yang belum dilubangi bisa dipakai. (Gumido)

BERITA REKOMENDASI