Pameran Sekaten Gantikan Pasar Malam Tahun Ini

Editor: KRjogja/Gus

YOGYA, KRJOGJA.com – Pameran Sekaten resmi dibuka dan berlangsung 1 hingga 10 November mendatang. Pameran Sekaten akhirnya menggantikan hingar bingar pasar malam seperti tahun-tahun biasanya. Pameran tahun ini bertema kisah Sri Sultan Hamengku Buwono I (Pangeran Mangkubumi) dan seni bertajuk ‘Menghadang Gelombang, Menantang Zaman’.

Rencananya pada tahun berikutnya akan tetap berkonsep tematik, menghadirkan cerita perjalanan Sri Sultan Hamengku Buwono II, begitu seterusnya setiap tahun.

“Artinya kalau mau mengenal Pangeran Mangkubumi harus sekarang, kalau tidak ya harus nunggu 10 tahun lagi,” ungkap GKR Bendara saat soft opening dan tur pameran, Jumat (1/11) di Bangsal Pagelaran dan Siti Hinggil Kraton Yogyakarta Hadiningrat seperti dikutip dari Harianmerapi.com.

Memang ada yang beda dari tahun sebelumnya. Pasalnya sudah 30 tahun acara Sekaten selalu syarat dengan pasar malam lengkap dengan tong setan, baju awul-awul (penjualan baju bekas pakai) dan hiruk piruk pedagang.

Ia mengatakan bahwa tahun ini acara lebih upgrade (meningkat). Sebab sebetulnya inti dari Sekaten bukan pasar malam, seharusnya ada informasi lebih yang bisa diterima masyarakat terkait perjuangan dan sejarah terbentuknya Ngayogyakarta Hadiningrat.

“Tahun ini ingin mengajak masyarakat agar mengetahui biografi dan perjuangan Pangeran Mangkubumi terutama setelah perjanjian Giyanti dan bagaimana beliau membangun Ngayogyakarta Hadiningrat,” jelasnya.

Pangeran Mangkubumi sebagai tokoh utama dalam perjuangan membela Praja Mataram dengan disepakatinya Perjanjian Giyanti pada 1755. Dinyatakan bahwa Kerajaan Mataram dibagi menjadi dua yaitu Kasunanan Surakarta Hadiningrat dan Kasunanan Ngayogyakarta Hadiningrat, yang kemudian Pangeran Mangkubumi bergelar Sultan Hamengku Buwono I.

Melalui pameran ini masyarakat diajak menafsirkan serta menggali sejarah Pangeran Mangkubumi melalui karya budaya.

Karya monumental Babad Ngayogyakarta dan Kanjeng Kyai Tandhu Lawak juga turut dihadirkan. Kanjeng Kyai Tandhu Lawak merupakan tandu tertua di Keraton Yogyakarta, yang digunakan ketika Sultan menghadapi usia senja yang selalu mengantarkan Sultan menuju Kagungan Dalem Masjid Gedhe untuk melaksanakan ibadah salat.

Selain itu dihadirkan mural dan spot foto yang instagrammable agar pengunjung dapat mengabadikan moment dan tetap kekinian.

Ruang diskusi budaya, pelatihan seni yang menyasar target milenial, workshop penulisan aksara jawa mrnggunakan digital serta pertunjukan seni yang berbeda-beda setiap malam. (C-4)

 

 

BERITA REKOMENDASI