Pandemi Covid-19 Tidak Hanya Ujian, Masalah Yang Muncul Munculkan Inovasi

YOGYA (KR) – Pandemi Covid-19 merupakan krisis multi demensi. Dampaknya tidak hanya ekonomi, tetapi juga berimbas pada dunia pendidikan. Namun demikian, pandemi ini tidak bisa hanya dianggap menjadi ujian, tetapi dapat menjadi sarana berinovasi untuk menghasilkan kreativitas dan inovasi agar keluar dari persoalan tersebut.

“Memang dampaknya selalu negatif. Pembelajaran menjadi tidak optimal. Namun dibalik itu, ada sisi lain. Yakni bagaimana kita keluar dari berbagai persoalan yang muncul,” ujar Kepala SMP Negeri 12 Yogyakarta, Abdurrahman SPd MPdSi dalam bincang ruang Editorial KR, Selasa (15/10). Selain Abdurrahman, ikut menyampaikan pandangan, Kepala Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta, Budi Santosa Asrori SE MM. Bincang-bincang ini juga sekaligus ditayangkan di Channel YouTube Kedaulatan Rakyat TV.

Menurut Abdurrahman, inovasi itu muncul setelah mengetahui lebih dahulu berbagai persoalan yang muncul. Baik dari masalah psychosocial anak didik, hingga persoalan kurangnya pertemuan siswa dan guru karena pelaksanaan pembelajaran jarak jauh.

“Untuk mengetahui persoalan yang terjadi, maka kita secara berkala, sepekan sekali meminta pendapat orang tua, melalui angket. Mereka mengisi dan menyampaikannya kepada sekolah,” ujar Abdurrahman.

Dari hasil angket itu, kemudian dipetakan untuk dicarikan solusinya. Selain itu, persoalan itu juga menjadi bahan kajian siswa didik. Dan ternyata para siswa memberikan ide-ide untuk menciptakan alat-alat yang membantu proses belajar nantinya di sekolah. Seperti deteksi kondisi anak ketika masuk sekolah hingga alat Alat Pelindung Diri (APD) bagi siswa. “Untuk persoalan psychosocial, kita telah melakukan bimbingan konseling kepada siswa secara online,” tambahnya.

Terkait evaluasi PJJ di Kota Yogyakarta, Budi Santosa Asrori mengemukakan, seluruh pemangku pendidikan berupaya bagaimana proses pembelajaran tetap berlangsung dengan baik. Meski hal itu juga berat. Meski demikian, jika terjadi penurunan kualitas, diharapkan turunnya tidak terlalu banyak. “Kalau pembelajaran tatap muka lebih disukai dan lebih efektif,” ujar Budi.

Sejauh ini langkah yang sudah dilakukan dinas, bersama pengawas, mengkaji sistem pembelajaran saat ini. Ternyata tidak semua pembalaran bisa didaringkan, hanya 70 persen yang bisa.

Sebelum pemerintah pusat juga telah meluncurkan kurikulum adaptif. Dan ternyata, pihaknya bersama guru dan pengawas sudah menganalisa terkait perlunya penyesuaian kurikulum.

Selain itu, Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta juga sudah membagikan kuota internet. Yang tidak bisa didaringkan bisa dengan dengan tatap muka. Seperti untuk pembelajaran di tingkat awal, diantaranya membaca, menulis dan berhitung (Calislung), sangat membutuhkan tatap muka guru dengan anak. Namun demikian, jika dilakukan tetap ada risikonya.

Sebelum ini, sudah ada program guru kunjung, untuk kelas 1 dan 2 SD. Namun dari aspek efektivitas, masih belum optimal. Apalagi ada resiko juga. Sehingga program ini ditarik ke sekolah, yakni dikhususnya bagi anak yang membutuhkan layanan sekolah. “Kita buka konsultasi pembelajaran. Dengan skala terbatas sekali. Posisinya gas dan rem, lihat situasi dan kondisi di sekitar sekolah,” ujar Budi. (Jon)

BERITA REKOMENDASI