Para Pejuang Bercerita Tentang Serangan Umum 1 Maret 1949, Ini Kisahkan

YOGYA, KRJOGJA.com – Menyemarakkan peringatan Serangan Umum 1 Maret 1949, Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta mengadakan pameran temporer bertema 'Dari Jogja RI Berdaulat' di museum setempat, 1-5 Maret 2019. Pameran menceritakan sejarah peristiwa Serangan Umum 1 Maret 1949 juga memamerkan 30 benda bersejarah seperti senjata, selongsong mortir, mesin ketik, bendera merah putih, keris dan pedang yang digunakan pejuang kemerdekaan melawan penjajah di Yogyakarta.

Pameran dibagi dalam empat bagian. Bagian pertama 'Hijrahnya Ibukota Republik Indonesia ke Yogyakarta' menceritakan mendaratnya pasukan Belanda ke Indonesia menyebabkan keadaan khusunya Jakarta menjadi gawat. Maka diputuskan ibukota dipindahkan dari Jakarta ke Yogyakarta pada 4 Januari 1946. Di bagian kedua 'Awan Hitam di Langit Yogyakarta' menceritakan bahwa mulai 19 Desember 1948 pukul 00.00 Belanda tidak lagi terikat dengan perjanjian Renville. Pagi harinya Lapangan Terbang Maguwo dihujani bom dan tembakan oleh pesawat Belanda dan akhirnya Yogyakarta jatuh di tangan Belanda. 

Bagian ketiga 'Ditandai dengan Sirine' menceritakan mengenai peristiwa Serangan Umum 1 Maret 1949. Dalam tulisan itu dijelaskan serangan yang dilancarkan oleh 2.500 pasukan TNI dibantu pasukan gerilya pada 1 Maret 1949 tepat pukul 06.00. Mengenakan tanda janur kuning, dalam waktu singkat Belanda berhasil didesak mundur. Serangan ini berhasil membuka mata dunia internasional dan menepis propaganda Belanda yang menyebut TNI dan RI sudah hancur.

Dibagian terakhir 'Arti Sebuah Pengakuan' menceritakan keberhasilan Serangan Umum 1 Maret 1949 yang disiarkan melalui pemancar radio milik AURI dengan kode PC-2 yang berada di Playen Gunungkidul hingga didengar oleh PBB. Berita tersebut berhasil membuka mata internasional bahwa TNI dan Negara Republik Indonesia masih eksis. Setelah itu ditandatangani perjanjian Roem Royen salah satu dampaknya adalah 'Yogya Kembali' yang menjadi batu loncatan untuk mendapat pengakuan kedaulatan.

Kasubag Tata Usaha Museum Benteng Vredeburg, Haris Budhiarto mengatakan, inti dari pameran ini untuk mengenang kembali peristiwa bersejarah Serangan Umum 1 Maret 1949. "Diharapkan melalui pameran ini menumbuhkan semangat cinta tanah air bagi masyarakat terutama generasi muda, sebagai calon pemimpin bangsa yang akan mengisi pembangunan," ujarnya kepada KRJOGJA.com, Selasa (5/3/2019). Di sisi selatan, dipamerakan foto dan buku tentang Presiden Soeharto bertema 'Membangun Kembali Kejayaan Indonesia'. Selain pameran diadakan kegiatan pendukung seperti teartrikal, temu tokoh dan lain-lain. (Dev)

BERITA REKOMENDASI