Pariwisata Kota Yogyakarta Masuk Skala Prioritas

YOGYA, KRJOGJA.com – Selama beberapa tahun ini pembangunan yang berkaitan dengan industri pariwisata gencar dilakukan Pemkot Yogya. Terutama dari sisi infrastruktur yang menjadi
daya dukung pengembangan industri wisata. Hal ini seiring dijadikannya pariwisata sebagai skala prioritas pembangunan.

Menurut Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Yogya Agus Tri Haryono, Malioboro masih menjadi destinasi unggulan. Sehingga banyak penataan yang dilakukan di wilayah tersebut. Meski demikian, wilayah lain yang memiliki karakteristik juga tak luput dari penataan. “Sudah ada perencanaan untuk menata wajah kota dari berbagai sisi agar pariwisata berbasis budaya benarbenar bisa diwujudkan,” urainya, Minggu (1/3).

Khusus di kawasan Malioboro, selain penataan menuju semi pedestrian, pada 2018 lalu juga disusun perencanaan di wilayah sirip-sirip Malioboro. Kemudian dilanjutkan pengerasan jalan di kawasan Suryatmajan dan Pajeksan. Wilayah Kotabaru yang menjadi penyangga Malioboro juga ikut ditata. Diawali penataan boulevard Jalan Suroto menjadi jalur semi pedestrian dan dilanjutkan revitalisasi trotoar Jalan Jenderal Sudirman.

Revitalisasi trotoar Jalan Jenderal Sudirman juga dilakukan secara bertahap. Tahun lalu sudah diselesaikan tahap pertama dari simpang Gramedia hingga Jembatan Gondolayu. Tahun ini dilanjutkan ke barat hingga Tugu, dan tahun depan tahap ketiga dari Gramedia ke timur hingga Galeria. “Tahun ini juga ada penataan trotoar di sepanjang Jalan KH Ahmad Dahlan sepanjang 2,5 kilometer. Tahun depan, kawasan Kotabaru juga akan ditata trotoarnya sepanjang 5,5 kilometer. Penataan ini supaya wisatawan yang datang ke Yogya bisa semakin nyaman,” imbuhnya.

Agus menambahkan, selama ini sektor pariwisata menyumbang pertumbuhan ekonomi tertinggi dibanding sektor lain. Totalnya mencapai 17,46 persen. Dirinya bahkan menyebut, kontribusi itu jauh lebih tinggi dari angka nasional yang hanya menyumbang sekitar 4,8 persen untuk pertumbuhan ekonomi di Indonesia. Dengan demikian,
sektor pariwisata tetap dijadikan motor penggerak pertumbuhan ekonomi pada tahun 2021 mendatang.

Meski demikian, imbuh Agus, pengembangan pariwisata tidak bisa dilepaskan dari empat aspek yakni amenitas, atraksi, aksesabilitas dan promosi. Dicontohkannya untuk mendukung aksesabilitas wisatawan dibutuhkan optimalisasi transportasi penghubung seperti Trans Jogja maupun Si Thole. Selain itu juga diperlukan standar pada aspek higienitas kuliner yang dijajakan oleh pedagang. “Yang tidak kalah penting ialah branding yang tepat untuk promosi wisata di Kota Yogya. Ini supaya mudah diingat dan menjadi ikon bagi setiap wisatawan,” jelasnya.

Sementara Wakil Walikota Yogya Heroe Poerwadi, mengatakan salah satu upaya untuk sinergitas ekonomi dan pariwisata ialah dengan membuka pasar kreatif di lantai empat Pasar Prawirotaman. Terutama setelah revitalisasi Pasar Prawirotaman tersebut berhasil diselesaikan akhir tahun ini. Keberadaannya diharapkan mampu menjadi daya ungkit ekonomi di wilayah Yogya bagian selatan. Apalagi di Yogya selatan juga tengah dibangun Taman Pintar II yang mengedepankan wahana air.

“Kami juga akan membuka pasar kreatif di wilayah Yogya utara. Harapannya nanti bisa saling terintegrasi antara selatan dan utara. Integrasi itu penting supaya pembangunan bisa merata,” tandas Heroe. (Dhi)

BERITA TERKAIT