Pariwisata – Pendidikan, Mesin Penggerak Ekonomi DIY

YOGYA, KRJOGJA.com – Pemda DIY mengusulkan adanya branding berupa pelabelan atau penanda terhadap restoran, hotel, destinasi wisata dan sebagainya yang sudah sesuai dengan standar dan protokol kesehatan pencegahan Covid-19 dalam memulihkan perekonomian daerah.  Selain itu, Pemda DIY akan mengkolaborasikan salah satu visi DIY yaitu pariwisata, budaya dan pendidikan sebagai salah satu pendongkrak perekonomian DIY menyongsong era kenormalan baru.

Sekda DIY Kadarmanta Baskara Aji mengatakan, apabila kesehatan sudah mampu dikendalikan di DIY dan bantuan sosial sudah dirasa cukup untuk tiga bulan, masyarakat diharapkan siap untuk segera kembali tinggal landas kepada persoalan ekonomi. Dengan demikian, sudah saatnya berbicara mengenai pemulihan ekonomi di DIY di masa pandemi Covid-19.

“Salah satu yang menjadi andalan perekonomian DIY adalah pariwisata. Pariwisata dan Covid-19 adalah dua hal yang mempunyai korelasi negatif karena syarat pencegahan Covid-19 adalah jaga jarak, memakai
masker dan cuci tangan pakai sabun. Sebaliknya, pariwisata itu identik dengan kerumunan, maka perlu adanya labelling terhadap
restoran yang sudah melaksanakan protokol kesehatan,” kata Baskara Aji di Yogyakarta, Minggu (12/7).

Baskara Aji menekankan branding tersebut sangat diperlukan dalam memulihkan pariwisata DIY. Termasuk sektor pendidikan yang juga merupakan andalan PDRB DIY dengan mengemas mahasiswa tersebut sebagai wisatawan sebagai salah satu upaya memulihkan industri pariwisata DIY.

Asekda Perekonomian dan Pembangunan Setda DIY Tri Saktiyana menambahkan, perekonomian DIY dikenal tidak berbasis kepada ekonomi Sumber Daya Alam (SDA), tetapi ekonomi ilmu pengetahuan atau pendidikan dan budaya. Sehingga industri pariwisata dan pendidikan yang paling berkontribusi besar menyumbang PDRB DIY selama ini.

“Kita sepakat mesin pertumbuhan perekonomian DIY adalah pendidikan dan pariwisata. Sedangkan lainnya ada sektor pertanian, sektor industri pengolahan dan lainnya. Ketika putaran pendidikan dan pariwisata rendah, otomatis sektor pertanian dan lainnya ikut rendah,” kata
Tri Saktiyana. (Ira)

BERITA REKOMENDASI