Pataga Siap Diverifikasi Perihal Kemitraan

Editor: Ivan Aditya

YOGYA, KRJOGJA.com – Perusahaan taksi lokal KSU Pataga mengapresiasi positif rencana investigasi dan verifikasi yang akan dilakukan Dinas Perhubungan DIY terkait kerjasama kemitraan mereka dengan Blue Bird. Dengan adanya investigasi nantinya bisa dilihat semua detail kerjasama yang dilakukan tersebut.

"Dengan begitu akan tahu detail dokumen kerjasama yang kami lakukan. Barulah nanti bisa disimpulkan kebenaran yang sesungguhnya," tutur Sekretaris KSU Pataga Hadi Hendro, Jumat (01/02/2019).

Menurutnya tidak dapat dipungkiri jika saat ini banyak perusahaan taksi yang merasakan berat untuk melaksanakan operasional. Sebab itulah untuk mengatasi permasalahan tersebut, pihaknya mengambil strategi menggandeng Blue Bird untuk membantu usaha operasional melalui CSR kerjasma kemitraan.

"Unik ijin operasional tidak kami serahkan. Tetap kami yang pegang. Ketika sulit bersaing dengan taksi online, salah satu cara bersaing dengan pelayanan," imbuhnya.

Mengenai logo dan lainnya, pihaknya mengaku tetap mengacu pada peraturan yang berlaku. Saat aturan tidak membolehkan, pihaknya tetap melandaskan pada regulasi yang sudah diatur pemerintah.

"Esensinya kami mengambil brand untuk menjalankan usaha operasional taksi. Sebab hal itu yang bisa kami lakukan saat ini," jelasnya.

Hadi menambahkan meski menjalin kemitraan dengan Blue Bird, namun perusahaan taksi nasional itu tidak menambah armada baru. Semua armada yang direkondisi tetap milik anggota Pataga dengan tarif sesuai dengan aturan. Blue Bird sebagai mitra hanya melakukan pengelolaan manajemen, peningkatan kualitas layanan. Termasuk melakukan pembinaan kepada pengemudi.

"Kalau koperasi tidak bisa melakukan perawatan armada akan merugikan konsumen dan masyarakat Yogyakarta sendiri. Padahal, rata-rata kemampuan pengemudi saat ini hanya Rp 80-100 ribuan. Kondisi ini sangat merosot karena biasanya pengemudi tidak mengalami memenuhi setoran per hari Rp 300 ribu dan masih bisa membawa pulang hasil sekitar Rp 250-400 ribuan sehari," tandasnya.

Kondisi menyebabkan keuangan koperasi terus mengalami kerugian. Awalnya dengan 59 armada, pengurus bisa mengantongi laba Rp 420 juta per bulan dan saat ini kurang dari Rp 100 juta. (Feb)

BERITA REKOMENDASI