Pejuang Kreatif Pembuat APD DIY Lahirkan ‘Coverall’ Buatan Sleman dan ‘Faceshield’ T57

Sementara, belasan kilometer dari pedesaan itu, di kawasan perumahan Timoho, sebuah keluarga kecil tampak asyik berkreasi mengisi kegiatan bekerja dan belajar dari rumah dengan kegiatan lain. Dalam waktu sekitar 5 jam, di sela kegiatan utama bekerja atau belajar di rumah, keempat orang tersebut bisa memproduksi 35 buah faceshield dan 15 lagi sedang dalam proses. “Insya Allah, besok bisa didistribusikan 100-an,” ujar Fathul, Rabu (25/3).

Kamis, produk Tim57 Peduli Covid-19 telah rapi dan siap diambil RS JIH dan menurut Fathul akan dibagi ke RS PDHI dan RS milik UII, jika mungkin. “Dengan ukuran 28×28 berbahan mika hanya diperlukan Rp 5.000-an per biji,” ujarnya.

Produk karya Rektor UII Prof Fathul Wahid PhD bersama istri Dr Nurul Indarti dan dua anaknya membuat di sela kegiatan utama di rumah. Bahkan pagi kemarin, putri kecilnya sempat tidak membantu karena
harus mengerjakan PR onlinenya. Sementara siang, Fathul harus menguji thesis, bimbingannya juga secara video-conference.

Tenaga medis menjadi garda terdepan dalam mengantisipasi penularan dan penyebaran virus korona saat ini. Setiap hari keluhan rumahsakit akan minimnya APD terus terdengar. Padahal untuk ‘berperang’ melawan
virus tersebut, alatnya harus cukup. Kurangnya ketersediaan APD membuat ada dokter yang disebut harus berjibaku dengan mengenakan jas hujan dan itu sejatinya sangat membahayakan dirinya. Karena APD adalah alat kelengkapan yang wajib digunakan saat bekerja sesuai bahaya dan risiko menjaga keselamatan pekerja itu sendiri dan lingkungannya.

BERITA REKOMENDASI