Pemanfaatan Benih Padi Hibrida Belum Maksimal

Editor: Ivan Aditya

YOGYA, KRJOGJA.com – Pemanfaatan benih padi hibrida di kalangan petani sampai saat ini belum maksimal. Padahal, benih padi hibrida ini cukup potensial, karena rata-rata hasil produksinya bisa mencapai lebih dari 12 ton perhektare.

Menyikapi kondisi tersebut pemerintah serta stakeholder terkait yang di dalamnya termasuk Perguruan Tinggi (PT) perlu membuat semacam terobosan. Terobosan itu perlu dilakukan karena padi hibrida peka terhadap kekurangan air, sehingga dalam budidaya lebih rumit.

Baca juga :

Masa Pancaroba, BPBD Sleman Gandeng Desa Tangguh Bencana
Awas! Potensi Gelombang Tinggi di Pantai Selatan DIY

“Pemanfaatan padi hibrida di kalangan petani masih belum maksimal. Hal itu terjadi karena penggunaan padi hibrida dari sisi ekonomi (biaya produksi) lebih tinggi. Selain itu harga benihnya juga mahal, sehingga petani enggan menggunakan padi tersebut meski produktivitasnya tinggi,” kata pengamat pertanian dari Akademi Pertanian (Apta) Yogyakarta, Supriyati MP.

Supriyati mengungkapkan, meski padi hibrida memiliki sejumlah keunggulan, seperti potensi hasil yang lebih tinggi dibanding padi inbrida. Namun karena dalam pemeliharaannya tergolong tidak mudah, pemerintah tetap perlu melakukan terobosan.

Hal itu perlu dilakukan, karena penggunaan benih padi hibrida harus baru terus setiap kali tanam, jadi tidak bisa digunakan untuk tanam berikutnya. Kondisi itu sering menjadi kendala bagi petani untuk menanam padi hibrida. Belum lagi untuk wilayah yang ketersediaan air terbatas perlu teknologi pengairan yang dapat menjamin pertumbuhan padi agar hasil dapat maksimal.

“Seandainya petani ingin menanam padi hibrida, saran saya sebaiknya untuk wilayah yang memenuhi persyaratan tumbuh. Oleh karena itu, perlu dilakukan sosialisasi kepada petani agar mereka yakin bahwa padi hibrida lebih baik karena selain produktivitas tinggi juga tahan terhadap hama wereng,” terangnya. (Ria)

BERITA REKOMENDASI