Pembelajaran Jarak Jauh Bikin Gagap Semua Pihak, Ini Buktinya..

SISTEM pembelajaran jarak jauh (PJJ) di Indonesia masih belum biasa dilakukan. Oleh karenanya semua tergagap ketika hal itu diterapkan akibat pandemi Covid-19. Pemerintah, tenaga pengajar dan siswa belum siap. Sementara orang tua siswa banyak yang mengeluh karena setiap hari harus mendampingi anaknya belajar. Belum lagi mereka harus mengeluarkan dana ekstra untuk pembelian kuota. Mereka berharap pandemi mereda, sehingga KBM tatap muka di sekolah segera bisa dimulai.

Indah F, warga Perum BM Mlati Sleman yang punya anak duduk di bangku SD, menyatakan PJJ tidak maksimal. Pasalnya anak cenderung hanya mengerjakan tugas tanpa mengerti pembelajaran di dalamnya, meskipun guru sudah membekali dengan materi. ”Bagi orang tua yang bekerja, akan lebih sulit lagi dalam mendampingi anak
saat belajar,” katanya, Sabtu (1/8).

Sedangkan Pri Hastuti M.Keb, dosen Profesi Bidan Stikes Akbidyo Yogyakarta yang juga orang tua siswa menilai ada kelebihan dan kekurangan PJJ. Menurutnya, dari segi pendamping, tidak semua orang tua punya pendidikan dan pengetahuan yang sama dalam pendampingan anak ketika belajar. “Orang tua harus mengenali terlebih dahulu cara belajar anak,” katanya.

Adapun sisi positifnya menurut Pri Hastuti, karena karakter anak generasi ‘Z’ (disebut juga iGeneration, Generasi Net, atau Generasi Internet) lebih suka berbicara di dunia maya dari pada tatap muka. Mereka bisa belajar secara otodidak tentang segala sesuatu dari internet. Kondisi ini sangat mendukung memberikan kesempatan yang sesuai dengan karakter anak untuk menerima pembelajaran jarak jauh pada situasi pandemi Covid-19.

BERITA REKOMENDASI