Pembelajaran Tatap Muka Terancam Batal Tahun Ini

Editor: Ivan Aditya

YOGYA, KRJOGJA.com – Rencana pembelajaran tatap muka (PTM) yang sedianya digelar tahun ajaran baru mendatang, kecil kemungkinan bisa terwujud. Apalagi Pemda DIY telah mengeluarkan kebijakan penundaan PTM. Kapan pembelajaran tatap muka dapat digulirkan juga belum bisa dipastikan.

Wakil Walikota Yogya Heroe Poerwadi, menegaskan pihaknya saat ini belum membolehkan lembaga pendidikan jenjang SD hingga SMP. “Kondisi begini kita belum berani mengijinkan meski segala persiapannya sudah siap,” jelasnya.

Kondisi saat ini, imbuh Heroe, di samping tren kenaikan masih tinggi juga karena kecepatan sebarannya belum bisa dipetakan dan dipolakan. Pihaknya pun masih fokus memetakan dinamika kasus Covid-19. Terutama menyangkut penyebab dan asal usul kecepatan penyebaran virus.

Heroe mengaku, pihaknya tetap akan bersinergi dengan Pemda DIY maupun pemerintah pusat terkait kebijakan pembelajaran tatap muka. Bagaimanapun keamanan peserta didik dan tenaga pendidik menjadi unsur utama penentu pembelajaran tatap muka.

“Kalau misalnya ternyata kondisinya memungkinkan ya siapa tahu tahun ajaran baru memang bisa tatap muka. Sarana dan prasarana tidak ada masalah, tetapi memang harus melihat kondisi kasus yang ada,” urainya.

Uji coba pembelajaran tatap muka untuk jenjang SD dan SMP di Kota Yogya sebenarnya juga sudah dilakukan sejak akhir Mei lalu. Total ada sepuluh sekolah, masing-masing lima sekolah jenjang SD dan lima sekolah jenjang SMP.

Selama uji coba, Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kota Yogya rutin melakukan evaluasi. Hasilnya, dari aspek penerapan protokol kesehatan sudah tidak ada persoalan. Hanya, satgas di tiap sekolah harus mampu konsisten agar protokol tidak kendur.

Selain itu, selama proses pembelajaran di sekolah kecenderungan siswa dan guru mampu berlaku tertib. Terutama protokol wajib seperti memakai masker, menjaga jarak, sering mencuci tangan serta menjauhi kerumunan.

Akan tetapi kekhawatiran terjadi ketika jam pulang sekolah ketika siswa tidak dijemput oleh keluarganya. Yakni siswa yang berjalan kaki menuju rumahnya dengan bergerombol sesama rekan. (Dhi)

BERITA REKOMENDASI