Pembukaan Sekolah Dilematis

Editor: Ivan Aditya

YOGYA, KRJOGJA.com – Pandemi Covid-19 menyebabkan dampak negatif di banyak sektor, ekonomi, kesehatan, pendidikan dan lainnya. Belum dibukanya sekolah untuk menyelenggarakan pembelajaran tatap muka (luring) membuat keprihatinan banyak orang tua siswa. Pasalnya, selama pembelajaran daring, semangat belajar anak-anak menurun.

Dosen sekaligus orang tua siswa Tanti Nayono mengatakan, sektor pendidikan menjadi sektor yang paling terdampak. Untuk membangkitkan kembali sektor pendidikan, perlu berkolaborasi dengan sektor lain seperti ekonomi. Meskipun anak belajar di rumah, tapi cafe dan tempat nongkrong tetap beroperasi, anak akan cenderung keluar rumah nongkrong di tempat-tempat tersebut, sehingga tujuan membatasi aktivitas anak tidak tercapai.

“Kalau sekolah masih harus tetap tutup, ini juga harus diimbangi sektor lain agar tertib untuk meminimalisir anak berkeliaran dan nongkrong. Kalau PTKM berhasil menurunkan angka penularan Covid-19, apakah sekolah akan tetap ditutup sedangkan cafe-cafe tetap buka. Kami sebagai orang tua menjerit dengan kondisi pendidikan saat ini, dan berharap agar kualitas anak kami tetap terjaga,” terang Tanti dalam dalam Focus Group Discussion (FGD) daring bertema ‘Optimalisasi Vaksinasi dan PTKM di DIY, Jumat (22/01/2021).

FGD diselenggarakan oleh SKH Kedaulatan Rakyat (KR) bekerja sama dengan Satuan Tugas Penanganan Covid-19. Peserta FGD lainnya, Satoto Nayono juga menyampaikan keprihatinan terhadap proses belajar di DIY selama pandemi Covid-19. Sedangkan, Ketua Perkumpulan Penyelenggara Jasaboga Indonesia (PPJI) DPD DIY Hj Sri Wahyuni Dewi SE MM mengatakan, selama pandemi pihaknya telah menerapkan protokol kesehatan tingkat tinggi secara ketat, karena bisnis kuliner berhadapan dengan banyak orang. Sedangkan Pengurus Harian Barahmus DIY Donny Surya Megananda berharap museum bisa tetap beroperasi di masa PTKM.

Sekda DIY Kadarmana Baskara Aji  mengakui keputusan menutup sekolah sangat dilematis. Pasalnya pendidikan online tidak optimal efektifitasnya apalagi pelajaran praktik. Oleh karena itu Pemda DIY membolehkan perguruan tinggi dan SMK menyelenggarakan pembelajaran luring, khusus untuk pelajaran yang sifatnya praktikum, dengan ketentuan jumlah siswa dibatasi. Sedangkan untuk pelajaran teori, hingga saat ini terpaksa belum dibuka, untuk menghindari penularan Covid-19 demi keselamatan guru dan siswa.

“Rencana untuk memulai pembelajaran luring pada 1 Februari mendatang terpaksa ditunda dengan adanya kebijakan PTKM ini, tapi masukan dari masyarakat akan menjadi pertimbangan Satgas Penanganan Covid-19 DIY agar sekolah bisa diterapkan blended learning,” katanya.

Bupati Sleman Sri Purnomo mengatakan, pihaknya akan langsung menindaklanjuti laporan warga jika ada tempat-tempat yang menimbulkan kerumunan. “Warga bisa melapor ke kanal kami di ‘Lapor Sleman’ dan akan langsung ditindaklanjuti oleh Satpol PP dibantu Polri dan TNI untuk menertibkan,” katanya. (Dev)

BERITA REKOMENDASI