Pemda DIY Buat Podcast Bahas Isu Terkini

Editor: Ivan Aditya

YOGYA, KRJOGJA.com – Pemerintah Daerah (Pemda) DIY berupaya melakukan upaya sosialisasi dan memberikan informaso pada masyarakat di tengah pandemi. Beberapa waktu terakhir, Pemda menggelar podcast dalam program Ngobrolin Jogja yang digelar rutin setiap Senin dan Kamis mengundang narasumber berbeda.

Beberapa topik dibahas menyeluruh misalnya bersama BPBD DIY, Dinas Perhubungan dan Paniradya Kaistimewan. Seluruh podcast disiarkan secara langsung melalui kanal Youtube dan media sosial Pemda DIY.

Senin (10/08/2020) kemarin, diskusi membahas Digitalisasi Pemerintah Daerah bersama Paniradya Kaistimewan dan juga Kraton Yogyakarta. Pembicara berkompeten dihadirkan yakni GKR Hayu dan Kraton Yogyakarta dan Paniradya Pati, Ari Eko Nugroho.

Paniradya Pati, Ari Eko Nugroho mengatakan pentingnya transformasi budaya dalam bentuk digital meskipun di tengah pandemi Covid-19. Apalagi sebetulnya nilai luhur budaya sudah ada dan melekat sejak dulu melalui bahasa lisan.

“Nilai luhur sudah ada dari dulu, mengenal adanya bahasa dengan tradisi lisan dimana masih menjadi hanya ‘katanya’ orang tua dan sebagainya. Dengan metode sekarang, pola ditulis dan (dibuat) digital akan menjadi menarik sehingga nilai luhur yang kemarin memang ada ternyata mampu menjadj bagian yang mempengaruhi nilai luhur yang ada di DIY,” ungkap Eko.

Penghageng Tepas Tandha Yekti Kraton Yogyakarta, GKR Hayu memandang dalam upaya digitalisasi Kraton Yogyakarta telah membentuk divisi Tepas Tanda Yekti pada 2012 yang bertugas mendokumentasikan kegiatan Kraton Yogyakarta dan sebagai sumber literatur akurat bagi kalangan yang membutuhkan.

“Jobdesk (tugasnya) dokumentasi dan IT. Kerjanya seperti Kominfo dari versi kecil sebagai sumber informasi publik, salah satunya dengan medsos Kraton. Website Kraton Yogyakarta harus bisa menjadi rujukan yang valid sehingga kami harus hati-hati,” tandas Hayu.

Saat ini tengah pandemi Covid-19, dengan aktivitas yang dibatasi, Tepas Tanda Yekti sedang berupaya mengumpulkan dan mengarsipkan kembali database yang ada karena selama ini Kraton Yogyakarta didominasi paper based. “Kraton sangat paperbased, tugasnya tanda yekti mentransfer paperbased ke computer based. Foto yang dulu tercecer jangan smp tercecer lagi,” imbuh Hayu. (Fxh)

BERITA REKOMENDASI