Pemda DIY Pastikan Dapat Ganti Rugi

YOGYA, KRJOGJA.com – Pemda DIY memastikan warga terdampak pemugaran Pojok Beteng (Jokteng) Lor Wetan Kraton Yogyakarta akan mendapatkan kompensasi yang pantas dan layak. Untuk itu, Pemda DIY tengah mematangkan berbagai alternatif pilihan kompensasi yang akan ditawarkan sesuai dengan status tanah yang ditempati warga terdampak tersebut.

Sekda DIY Gatot Saptadi mengatakan, telah dilakukan identifikasi awal lahan terdampak pembangunan atau pemugaran Jokteng Lor Wetan Kraton Yogyakarta. Dari identifikasi tersebut ternyata terdapat sejumlah bidang tanah yang berstatus magersari, sejumlah titik berstatus hak milik dan berstatus Hak Guna Bangunan (HGB).

"Pak Gubernur memerintahkan untuk menghitung dulu lahan yang akan digunakan baru dicarikan jalan keluar atau solusinya. Kita ingin bertahap pembangunannya, semisal kalau yang magersari keluar dulu maka pembangunannya bisa dilaksanakan atau belum, ternyata harus bareng," tutur Gatot di Kompleks Kepatihan, Selasa (5/3).

Gatot mengaku, sosialisasi terhadap warga terdampak sudah dilakukan secara informal, pihaknya masih sebatas berkomunikasi door to door atau pendekatan kepada setiap personal karena warga yang terdampak tidak banyak. Prinsipnya rencana pemugaran Jokteng Lor Wetan Kraton Yogyakarta tersebut cukup kondusif dan siap dilakukan pasca kajian dan Detail Engineering Design (DED) selesai. "Kajian untuk desain hingga DED-nya sedang dibuat Dinas Kebudayaan (Disbud) DIY sesuai arahan dari Gubernur DIY,” imbuhnya.

Terkait dengan ganti rugi dengan warga terdampak, Gatot menekankan tetap akan diberikan penggantian kepada warga terdampak. Sebab Gubernur DIY tidak menginginkan penggantian tersebut lebih jelek dari kondisi warga terdampak sekarang.”Kami pastikan kompensasi tetap ada bagi warga terdampak dan banyak pertimbangan maupun opsinya. Kompensasinya berbeda disesuaikan dengan
status tanah,” tandas Sekda DIY tersebut.

Kepala Disbud atau Kundha Kabudayan DIY Aris Eko Nugroho menambahkan pemugaran Jokteng Lor Wetan merupakan bagian dari upaya menghidupkan landmark sumbu filosofi yang tengah diusulkan kepada UNESCO menjadi Warisan Budaya Dunia. Jokteng Timur Laut Kraton Yogyakarta diubah menjadi Jokteng Lor Wetan setelah mendapatkan izin perubahan nama yang juga disesuaikan dengan nama-nama tiga Joteng Kraton Yogyakarta lainnya yang masih ada.

Terpisah Ketua Dewan Kebudayaan DIY, Dr Djoko Dwiyanto MHum menyatakan, model pendekatan yang dilakukan oleh Pemda DIY kepada warga yang terdampak pemugaran Jokteng Lor Wetan Kraton sudah cukup bagus. Dengan adanya pendekatan, selain tercipta suasana yang kondusif, diharapkan masyarakat akan lebih mudah memahami tujuan dari pemugaran Jokteng Lor Wetan Kraton. Sehingga apabila nantinya tanah yang mereka tempati mau dipergunakan oleh pemerintah bisa dilakukan secara kondusif.

"Seharusnya yang namanya status tanah magersari sewaktu-waktu mau digunakan oleh pemerintah harus dikembalikan. Untuk itu adanya sosialisasi dan pendekatan terhadap warga terdampak, saya kira menjadi salah satu efektif untuk mencari solusi terbaik,” kata Djoko.

Menurut Djoko, pemugaran Jokteng Lor Wetan Kraton dilakukan mengembalikan kewibawaan kraton sebagai simbol dari kewibawaan DIY. Karena hubungan kraton dengan DIY menjadi satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Supaya citra kejayaan kerajaan tersebut bisa kembali. ”Saya kira sebenarnya tidak hanya Jokteng Lor Wetan saja, tapi ada juga bagian lain yang perlu ditampakkan. Misalnya jagang atau parit keliling benteng yang sekarang sudah tidak kelihatan,” ujar Djoko. (Ira/Ria)

 

 

 

BERITA REKOMENDASI