Penarik Ingin Becak jadi Ikon Wisata

YOGYA, KRJOGJA.com – Penarik becak tradisional di Yogyakarta berharap alat transportasi tradisional ini menjadi ikon wisata atau budaya. Kemajuan zaman membuat keberadaanya terkikis karena sudah ditinggalkan para pelaggan.

Meski hanya bisa dihitung dengan jari, masih ada beberapa penarik becak mencoba bertahan karena himpitan ekonomi. Biasanya, mereka tersebar di beberapa pasar tradisional. Salah satunya, adalah Ponadi yang biasa mangkal di salah satu hotel berbintang.

"Tarif mahal memang iya karena menggunakan tenaga manusia. Beda dengan transportasi menggunakan mesin," kata Ponadi, Jumat (08/02/2019) kepada KRJOGJA.com.

Ponadi mengatakan mulai mengayuh becak sejak tahun 1997. Awalnya, ada sekira 30 penarik becak yang bergabung dan sampai saat ini hanya tersisa enam orang saja. Mereka hanya mendapatkan penghasilan dari tamu hotel. Namun, saat ini pelanggannya mulai berkembang yang lebih memilih transportasi online. Selain itu, mengeluhkan keberadaan becak bermotor (bentor) sehingga pengemudi becak semakin terpinggirkan.

"Saya sendiri belum mau ganti (bentor) karena akan mengeluarkan banyak biaya. Sampai saat ini jumlah becak kayuh terus berkurang dan idealya, keberadaan becak kayuh harus dieprtahankan sebagai ikon pariwisata atau budaya," tandasnya. (Evi Nur Afiah)

BERITA TERKAIT