Pendidikan Indonesia Diharapkan Setara dengan ASEAN

YOGYA, KRJOGJA.com – Negara-negara di ASEAN serius untuk menyusun dan menyamakan kerangka kualifikasi melalui Kerangka Referensi Kualifikasi ASEAN atau Asean Qualifications Reference Framework (AQRF).  Hal itu terlihat dari 93 orang delegasi yang hadir dari 10 negara ASEAN, Selandia Baru, Australia, dan Irlandia dalam Rapat Komite AQRF yang diselenggarakan di Yogyakarta (28/10/2019), dan akan dilanjutkan hingga Rabu (30/10/2019).

Aris Junaidi, selaku Direktur Penjaminan Mutu, Dirjen Belmawa Menristekdikti,yang juga Sekretaris Komite Nasional Kualifikasi Indonesia (KNKI) mengatakan kegiatan ini penting agar standar pendidikan dan luaran pembelajaran, terutama dalam jenjang pendidikan tinggi. Hal itu akan menjadikan kualitas sumber daya manusia di ASEAN memiliki kemampuan yang tidak jauh beda.

Indonesia, menurut Aris, serius dalam merespon penyetaraan kerangka kualifikasi ini. Menurutnya Indonesia melalui KNKI telah mengirimkan dokumen kepada Reviewer untuk dianalisis hingga diakui setara dengan kerangka kualifikasi ASEAN. 

“Jadi ini merupakan review atau audit mengenai AQRF ini. Reviewer nya ini expert, yaitu Prof. Maria ini. Nah setelah itu nanti review itu dikembalikan ke kita untuk diperbaiki kalau ada masukan. Jika sudah diterima oleh semua, berarti level kualifikasi Indonesia sudah sama dengan level kualifikasi ASEAN. Jadi ketika sudah diterima maka proses kualifikasi indonesia akan bisa diterima di semua negara ASEAN,” jelas Aris. 

Maksud dari penyetaraan itu ialah penyamaan level pendidikan. Menurut Aris, Indonesia saat ini memiliki Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI) sebanyak Sembilan tingkatan, tetapi di ASEAN hanya ada delapan tingkatan.

“(Perbedaan) itu bukan untuk menambah, tetapi untuk menyetaraka. Contohnya level 1 indonesia itu sama dengan level 2 ASEAN, dan memang ada 2 poin yang itu akan setara dengan 1 poin di ASEAN. Ini penting sekali dilakukan, agar level-level pendidikan di Indonesia itu setara dengan level yang ada di ASEANpendi,” tambah Aris. “Karena sudah saling diakui, maka student mobility, riset kolaborasi, staf exchange dan seterusnya itu semuanya tidak ada hambatan lagi”, pungkasnya. 

Dalam wawancara, ahli pendidikan tinggi dari Irlandia, Prof. Maria Slowey Maria mengkonfirmasi bahwa Indoensia serius dalam AQRF. "Indonesia terlihat serius dengan adanya AQRF ini dengan mengirimkan cukup banyak dokumen sekitar 200 halaman. Namun, yang perlu digarisbawahi yaitu mengenai edukasi, kementerian perlu lebih menguatkan mengenai edukasi terutama edukasi untuk lebih siap di dunia kerja menghadapi persaingan negara asing,” terangnya. (Ati)

 

BERITA REKOMENDASI