Pendidikan Vokasi Harus Beradaptasi dengan Pandemi

Editor: KRjogja/Gus

YOGYA, KRJOGJA.com – Pendidikan Vokasi harus beradaptasi dengan Pandemi Covid-19 yang hingga kini belum berakhir dengan menerapkan Konsep BMW (Bekerja, Melanjutkan, Wirausaha). Lulusan pendidikan vokasi tidak harus bekerja, tapi bisa melanjutkan studi atau berwirausaha.

“Akibat pandemi, banyak perusahaan mengurangi jumlah karyawan dan itu tidak bisa dihindarkan. Untuk itu kita tidak memaksakan anak-anak harus bekerja. Kalau tidak bisa bekerja karena memang lowongan berkurang, lulusan pendidikan vokasi bisa melanjutkan studi. Apabila mereka tidak bekerja dan tidak melanjutkan, diharapkan bisa membuka wirausaha,” ungkap Direktur Kemitraan dan Penyelarasan Dunia Usaha dan Dunia Industri (Mitras DUDI) Ditjen Pendidikan Vokasi Dr Ahmad Saufi SSi MSc usai membuka Rakor Link and Match SMK yang Membuka Bidang Seni dan Industri Kreatif dengan DUDI yang diselenggarakan BBPPMPV Seni dan Budaya di Hotel Indoluxe Yogya, Kamis (28/5) malam.

Bagi yang ingin melanjutkan, lanjut Saufi, Ditjen Pendidikan Vokasi menyediakan program SMK-D2 Fast Track atau SMK-D2 Jalur Cepat dan peningkatan program D3 menjadi D4. Program ini juga tidak lepas dari keterlibatan DUDI sehingga menghasilkan lulusan yang mempunyai kompetensi sesuai dengan kebutuhan DUDI.
Ditambahkan Saufi, target Direktorat Mitras DUDI adalah membuat DUDI merasa nyaman bermitra dengan satuan penyelenggara pendidikan vokasi. Salah satunya dengan diterbitkannya kebijakan pemerintah terkait pengurangan pajak atau Super Tax Deduction bagi industri yang berkontribusi dalam pengembangan pendidikan vokasi.

“Bagaimana mereka dibikin nyaman di antaranya dengan adanya insentif yakni Super Tax Deduction. Sehingga industri tidak terbebani dan juga merasa ada untungnya bekerja sama dengan satuan penyelenggara pendidikan vokasi. Setiap rupiah bisa diklaim untuk pengurangan pajak mereka. Yang kedua, DUDI akan mendapat suplai tenaga terdidik sesuai dengan keinginan mereka. Dalam hal ini DUDI juga punya tanggung jawab untuk ikut membina pendidikan vokasi,” imbuhnya.
Ditambahkan Saufi, kondisi akibat terjadinya pandemi Covid-19, jika tidak diantisipasi satuan penyelenggaran pendidikan vokasi, maka akan ketinggalan di landasan. “Untuk mengantisipasi kondisi akibat pandemi ini, konsep 8+i menjadi resep yang manjur. Yakni pada poin kedua yang menekankan pada pembelajaran Projecct Based Learning, dimana dalam mengajarkan di dalam kelas atau praktikumnya itu mengangkat apa-apa yang menjadi permasalahan di industri. Jadi peserta didik sejak dini sudah mengenal apa-apa yang menjadi permasalahan di industri,” bebernya.

BERITA REKOMENDASI