Peneliti UGM Ciptakan Alat Penghitung Emisi Gas Rumah Kaca Pertanian

Editor: Ivan Aditya

SLEMAN, KRJOGJA.com – Dosen Departemen Teknik Pertanian dan Biosistem, Fakultas Teknologi Pertanian UGM, Bayu Dwi Apri Nugroho membuat terobosan baru di bidang pertanian dengan mengembangkan pertanian cerdas yang mampu melakukan penghitungan gas emisi rumah kaca di lahan pertanian. Alat yang dibuat tersebut dapat menampilkan informasi tentang emisi gas rumah kaca yaitu gas metan (CH4), karbondioksida (CO2), amonium (NH4) yang dihasilkan dari lahan pertanian.

Bayu mengungkap pengembangan pertanian cerdas selalu berorientasi pada pertanian yang persisi di proses budidaya atau on farm. Padahal menurut dia, data-data yang diperoleh dari sensor-sensor yang dipasang dilahan pertanian dapat dipakai untuk menghitung informasi lain di luar on farm, salah satunya adalah menghitung emisi gas rumah kaca di lahan pertanian.

Baca juga :

Selfie Wisatawan Rusakkan Meja HB VIII, Ini Komentar Ibu Ratu
Jelang Nataru, Waspadai Makanan Kadaluwarsa

“Selama ini penghitungan emisi gas rumah kaca di lahan pertanian dilakukan secara manual dan perkiraannya berdasar data sekunder seperti varietas yang ditanam, jenis pupuk lalu dicocokkan dengan pedoman Intergovermental Panel on Climate Change (IPCC). Padahal, tidak akurat kalau hanya mengandalkan itu, emisi rumah kaca pertanian dari tahun ke tahun terus meningkat bahkan dalam 50 tahun terakhir, sampai 100 persen,” ungkapnya.

Sumber emisi utama dari sektor pertanian berasal dari penggunaan pupuk kimia dan irigasi berlebih, penggunaan pupuk yang belum terfermentasi serta pembakaran jerami di lahan pertanian secara masif. Inilah yang lantas membuat Bayu mmbangun alat dengan 5 sensor yakni radiasi matahari, arah dan kecepatan angin, kelembaban suhu udara, hujan dan kelembaban tanah termasuk suhu dan daya hantar listrik tanah.

"Data bisa dilihat real time dan terupdate seperti data iklim dengan sambungan internet GSM dan ada foto lokasi satu kali setiap hari. Data ini dapat digunakan untuk mengevaluasi sistem irigasi dan menghitung konsentrasi emisi gas rumah kaca yang diolah dengan model jaringan saraf tiruan (ANN) sehingga akan didapatkan nilai penurunan emsisi yanga terdapat di lahan pertanian,” ungkapnya lagi.

Alat ini dikembangkan Bayu sejak 2016 dan telah dipasang di beberapa lokasi seperti Kupang, Sumba Timur dan Banjarnegara. “Harapannya dengan tekonologi ini dapat mewujudkan pertanian ramah lingkungan dengan pertanian presisi yang mengedepankan efisiensi menggunakan suatu infromasi dalam mengambil keputusan,” pungkasnya. (Fxh)

UGM

BERITA REKOMENDASI