Penerapan Teknologi Modern Harus Perhatikan Kesiapan Masyarakat

YOGYA, KRJOGJA.com – Di era modern (industi 4.0), sektor pertanian di Indonesia menghadapi beberapa masalah, salah satu yang utama adalah kurangnya Sumber Daya Manusia (SDM). Saat ini cukup sulit mencari buruh tanam maupun buruh panen untuk pertanian maupun perkebunan (sawit). Selain itu 60 persen petani yang ada adalah petani sakap (petani penyakap) yaitu petani yang mengusahakan lahan milik orang lain.

"Ketersediaan SDM di sektor pertanian menjadi salah satu kedala utama," terang Dekan Fakultas Pertanian (Faperta) UGM, Dr Jamhari dalam Seminar dan Workshop Pendidikan dan Industri Pertanian 4.0 'Tantangan dan Peluang' di Auditorium MMA Faperta UGM Yogyakarta, Selasa (18/12/2018). Pembicara lain Ir Budi Wasito dari FinTech yang mengulas tentang peluang startup di bidang pertanian, dipandu moderator Dosen Faperta UGM Subejo PhD. Seminar dan workshop merupakan kerja sama Faperta UGM dengan Corteva Agriscience melalui program Corteva Agriscience Goes to Campus UGM 2018. Seminar diikuti 100 perserta terdiri mahasiswa dan fresh graduate Faperta UGM.

Menurut Jamhari untuk mengantisipasi kurangnya ketersediaan SDM, maka perlu dilakukan upaya modernisasi (otomasi) sektor pertanian melalui pemanfaatan teknologi era industri 4.0. Misalnya untuk mengamati hama penyakit dengan menggunakan drone, mengontrol air dengan Automatic Water System (AWS) atau mendeteksi tanaman yang kurang pupuk dengan sensor tertentu. Kebutuhan teknologi modern juga sangat dirasakan untuk menjamin mutu produk pertanian terkait ukuran, rasa, tingkat kemasakan dan sebagainya. "Pertanian kedepan harus dikembangkan sebagai sebuah industri, tidak cukup pertanian hanya sebagai budaya," ujarnya.

Dijelaskan Jamhari, jika sebuah teknologi modern bisa meningkatkan kualitas maupun kuantitas produk pertanian, maka layak diterima. Namun dalam adopsinya harus tetap disesuaikan dengan tingkat kesiapan masyarakat. Menurut Jamhari, buruh-buruh pertanian/perkebunan ini akan terdisrupsi ketika teknologi otomasi/robotik yang lebih cepat dan efektif mulai dihadirkan. Oleh karena itu harus dipersiapkan pekerjaan baru bagi mereka (buruh) dan diberdayakan. "Inilah tugas dari pemerintah termasuk akademisi untuk menyiapkan segala sesuatunya (pekerjaan baru) agar pihak yang terdisrupsi masih tetap berdaya," tuturnya.

Di era industri 4.0 ini Faperta UGM mendorong mahasiswanya untuk berfikir kritis dalam mengatasi permasalahan sektor pertanian dengan menciptakan startup. Untuk mendukung hal itu Faperta UGM akan membangun gedung baru Agrotropical Learning Center. Menurut Jamhari dalam gedung baru tersebut akan dikembangkan terkait otomasi dan robotik di bidang pertanian juga menyiapkan co-working space sebagai wahana bagi mahasiswa menciptakan starup maupun big data analisis.

Produk Manajer Benih Corteva Agriscience, Yuana Leksana mengatakan, melalui program Goes to Campus, Corteva Agriscience ingin membagikan realita di sektor pertanian serta kompetensi yang harus dimiliki mahasiswa sebelum terjun ke dunia kerja. Menurut Yuana, ada dua bidang yang dikerjakan oleh Corteva, yaitu bidang benih terdiri benih jagung hibirda dan padi hibrida serta bidang produk perlindungan tanaman (pestisida). Saat ini Corteva sedang melakukan pengujian bioteknologi dan mempersiapkan produk perstisida (insektisida, fungisida, herbisida) yang ramah lingkungan dan lebih efisien. "Kita terus perkuat kerja sama dengan Faperta UGM sekaligus meningkatkan kapasitas mahasiswa dan dosen," katanya. (Dev)

BERITA REKOMENDASI