Pengembangan Malioboro Harus Diiringi Pembangunan Perilaku Warga

Editor: Ivan Aditya

YOGYA, KRJOGJA.com – Puluhan arsitek dan pemerhati tata kota berkumpul di Jogja Gallery Jalan Pekapalan Alun-alun Utara, Selasa (30/01/2018) malam. Mereka ternyata membahas pengembangan kawasan Malioboro yang selama ini dinilai sebagai jantung Yogyakarta sekaligus magnet wisatawan.

Dialog menarik mulai terasa saat Ahmad Saifudin Mutaqi, Ketua Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) DIY memantik melalui pandangan pentingnya memperhatikan keberagaman elemen Malioboro. Mutaqi menilai, upaya penyeragaman dalam pengembangan Malioboro bukanlah solusi yang harus diambil pemerintah kedepan.

“Jika dilihat lebih dalam Malioboro itu milik banyak orang, ya warga Yogya, pemerintah maupun pedagangnya. Menurut saya penyeragaman dalam pengembangan Malioboro bukanlah solusi, sebaliknya harus bisa mengakomodir keberagaman,” ungkapnya dalam dialog yang diberi tajuk Arsitek Bermartabat, Kota Beradab, Malioboroku tersebut.

Salah satu perwakilan arsitek, Eko Agus Prawoto lebih dalam menyinggung bahwa pengembangan Malioboro tak bisa hanya melalui sisi fisik saja namun juga diimbangi perilaku warga yang ramah dan santun. “Malioboro selalu punya magnet tersendiri, orang akan selalu datang seperti apapun keadaannya. Karena itulah pengembangan fisik yang terkonsep tetap harus diimbangi pula dengan perilaku orangnya,” ungkapnya.

Sementara, pandangan yang tak kalah menarik muncul dari perwakilan Jogja Heritage Society,  Laretna T Adhisakti yang menilai sejak masa lampau HB I, Malioboro memiliki konsep tersendiri yang seharusnya perkembangannya disesuaikan dengan ide awal yakni menyeimbangkan alam dan budaya. “Menurut saya pengembangannya tak bisa hanya copy paste dari luar, harus punya karakter yang menunjukkan Keyogyakartaannya,” terangnya.

Beberapa waktu terakhir meski kawasan pejalan kaki telah direvitalisasi sedemikian rupa namun masih kerap terdengar berita pedagang yang memberlakukan harga selangit atas dagangan yang dijualnya di kawasan Jalan Malioboro. Tak hanya itu, juru parkir yang memanfaatkan situasi ramainya wisatawan pun memberlakukan harga tak kalah tinggi meski kemudian mendapat penindakan tegas. (Fxh)

BERITA REKOMENDASI