Pengendalian Inflasi, Masyarakat Diminta Tak Jor-joran Berbelanja

Editor: Ivan Aditya

YOGYA, KRJOGJA.com – Pengendalian inflasi tidak semata melalui peningkatan produksi, perbaikan tata niaga, pasokan dan distribusi di sisi suplai, namun harus melibatkan pengendalian di sisi permintaan. Imbauan berbelanja bijak amat penting, maka masyarakat DIY diminta belanja sesuai dengan kebutuhan dan tidak jor-joran.

Wakil Ketua Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) DIY Budi Hanoto mengatakan, peran otoritas juga vital dalam mengendalikan ekspektasi inflasi. Kalau terbiasa mengendalikan harga barang tetap stabil di setiap Ramadan/Lebaran, dan itu berulang terus menerus, maka pengendalian inflasi melalui pengelolaan ekspektasi diyakini ampuh.

”Masyarakat harus terbiasa merasakan kondisi harga yang selalu terkendali di setiap Ramadan dan Lebaran,” ujarnya di Yogyakarta.

Sementara Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) DIY Sri Fitriani menyampaikan, inflasi keseluruhan tahun 2018 diperkirakan berada dalam kisaran target inflasi 3,5 persen plus minus 1 persen (yoy) serta lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya. Relatif lebih rendahnya inflasi 2018 dipengaruhi oleh rendahnya gejolak inflasi administered price (harga barang yang diatur pemerintah semisal harga bahan bakar minyak dan tarif listrik) serta terjaganya volatile food (kelompok komoditas bahan makanan yang perkembangan harganya sangat bergejolak karena faktor-faktor tertentu) dan terkendalinya inflasi inti.

”Inflasi DIY pada Triwulan I 2018 lebih rendah dibandingkan Triwulan IV 2017. Kondisi ini sejalan dengan berakhirnya libur Natal dan Tahun Baru yang terjadi pada Triwulan IV 2017 sampai dengan awal Triwulan I 2018 yang mendorong kembali normalnya demand dan konsumsi masyarakat,” katanya.

Sri Fitriani menjelaskan, berdasarkan disagregasinya, potensi tekanan inflasi pada Triwulan I 2018 adalah risiko inflasi volatile food pada Triwulan I 2018 cenderung melandai dibandingkan periode triwulan sebelumnya. Hal ini dipengaruhi berlangsungnya musim panen padi pada periode awal tahun yang menahan laju tekanan inflasi volatile food. Selain itu, komoditas hortikultura juga diperkirakan akan mengalami panen sehingga mendorong rendahnya tekanan inflasi.

”Inflasi adminitered price diperkirakan akan cenderung menurun dibandingkan triwulan sebelumnya. Sebagaimana pola siklikalnya, berkurangnya demand masyarakat terhadap kebutuhan transportasi pasca momen liburan Natal dan Tahun Baru mendorong rendahnya tekanan pada periode Triwulan I 2018,” tambahnya.

Selain itu, rencana Pemerintah Pusat untuk tidak meningkatkan harga bahan bakar minyak (BBM) maupun listrik dapat menjadi faktor pengurang inflasi administered prices. Sejalan dengan berakhirnya musim libur Natal dan Tahun Baru, inflasi inti diperkirakan relatif terjaga. Kondisi global yang cenderung membaik mendorong stabilnya nilai rupiah dan harga emas dunia. (Ira)

BERITA REKOMENDASI