Penggunaan Kedelai Impor di DIY Tinggi

Editor: Ivan Aditya

YOGYA, KRJOGJA.com – Tingginya penggunaan kedelai impor sebagai bahan baku pembuatan tempe dan tahu, mulai meresahkan petani kedelai lokal. Oleh karena itu perlu ada terobosan untuk menciptakan pasar bagi kedelai lokal, salah satunya melalui pengembangan program kemitraan antara petani sebagai produsen dengan industri sebagai pengguna.

”Koordinasi terkait optimalisasi pasar kedelai lokal, perlu dilakukan untuk meningkatkan serapan pasar hasil produksi dan merumuskan rekomendasi kebijakan pengembangan komoditas kedelai lokal. Dengan begitu ketergantungan terhadap penggunaan kedelai impor bisa dikurangi,” kata Penjabat Sekda DIY Arofa Noor Indriani MSi.

Baca juga :

Berharap Selesai Kekeluargaan, PSIM Dampingi Tolle Ikuti Proses Hukum
Hoax, BMKG Nyatakan Cuaca Panas 3 Hari

Menurut Arofa, konsumen terpaksa harus menggunakan kedelai impor, selain ketersediaan dalam negeri belum mencukupi, juga karena harga kedelai impor lebih murah. Padahal jika dikaji secara mendalam, kualitas kedelai lokal lebih baik dari kedelai impor.

Oleh karena itu, untuk membangun minat konsumen terhadap penggunaan kedelai lokal, pemerintah mensinkronkan pengembangan produksi kedelai dengan kebutuhan pengguna. Bahkan supaya hasilnya maksimal perlu menjalin model kemitraan antara petani dengan industri pengguna guna memastikan pasar kedelai lokal.

Sementara itu, Asisten Deputi Pangan dan Pertanian Kemenko Perekonomian RI Darto MM mengungkapkan, masih tingginya ketergantungan terhadap kedelai impor, membutuhkan perhatian dari stakeholders terkait. Salah satu caranya dengan melakukan koordinasi yang baik antara Pemerintah Pusat, Pemda, para pemangku kepentingan, serta para petani. Koordinasi itu diperlukan supaya tercipta stabilisasi harga pangan termasuk kedelai. Khususnya pada saat menghadapi Lebaran, Natal dan Tahun Baru.

”Saya menyambut baik adanya kegiatan ini, terlebih topik yang diangkat menggambarkan pentingnya koordinasi, sinkronisasi, dan pengendalian terhadap sebuah kebijakan pangan, khususnya terkait kedelai. Seperti yang dijelaskan dalam Undang-Undang Pangan No 18 Tahun 2012, yaitu kemampuan negara dan bangsa dalam memproduksi pangan yang beraneka ragam dari dalam negeri yang dapat menjamin pemenuhan kebutuhan pangan yang cukup sampai ditingkat perseorangan,” jelasnya. (Ria)

BERITA REKOMENDASI