Penjual Tanah Tertipu Rp 27 Miliar

Editor: Ivan Aditya

YOGYA, KRJOGJA.com – Penjual tanah seluas 1.707 meter persegi di Gejayan, Ridwan Raharjo (44) warga Berbah menjadi korban penipuan senilai Rp 27 miliar yang diduga dilakukan seorang pengusaha AH dari Semarang. Modusnya pelaku memberi 5 cek kosong dan 2 sertifikat hak milik korban telah dibalik nama.

Kuasa hukum korban Alovi RM SH, Kamis (20/09/2018) mengungkapkan, awalnya pada 28 Desember 2015, korban dan pelaku yang diwakili oleh kuasanya melakukan penandatangan Perjanjian Perikatan Jual Beli (PPJB) di notaris. Pada hari yang sama, pelaku menghubungi korban, harus dilakukan Akta Jual Beli (AJB) atas nama AH di notaris yang berbeda.

"Untuk meyakinkan korban, pelaku memberi 5 cek senilai Rp 13,5 miliar di notaris yang pertama. Sedangkan saat penandatangan AJB, korban menyerahkan 2 sertifikat asli tanah hak milik," ungkapnya.

Pada saat penandatangan AJB, korban tidak menerima uang karena dijanjikan pembayaran dilakukan setelah pencairan kredit dari bank BUMN di Semarang. Namun setelah kredit cair senilai Rp 30 miliar dari bank, pelaku tidak merealisasikan janjinya untuk membayar. Bahkan oleh pelaku, sertifikat tersebut dialihkan ke bank BUMN lain untuk dijaminkan pinjaman senilai Rp 50 miliar.

"Saat korban akan mencairkan 5 cek, awalnya saldo tidak cukup dan rekening telah ditutup. Sehingga 5 cek tidak bisa dicairkan," terangnya.

Pada saat dilakukan penelusuran di BPN Sleman, 2 sertifikat sudah balik nama atas nama pelaku dan berubah sertifikat hak guna bangunan. Padahal korban tidak penandatangan penurunan hak atau pemberian kuasa atas penurunan hak tersebut.

"Merasa dirugikan, korban melaporkan penipuan ke Polres Sleman dan sekarang sudah dalam tahap penyidikan. Kami terima kasih atas atensi dari Kapolres Sleman dan Kapolda DIY yang langsung merespon perkara ini," tegasnya.

Diduga pelaku ini juga melakukan penipuan dengan modus yang sama di wilayah lain. Bahkan ada korban yang menelan kerugian sekitar Rp 100 miliar yang sedang diadukan di Polda Jateng.

"Saya minta masyarakat hati-hati jangan mudah terbujuk dengan iming-iming pembayaran cek. Sebaiknya peralihan hak dilakukan setelah pembayaran lunas," imbaunya. (Sni)

BERITA REKOMENDASI