Penutupan Malioboro Diusulkan Mulai Pukul 08.00

Editor: Ivan Aditya

YOGYA, KRJOGJA.com – Uji coba kawasan semi pedestrian di Malioboro ketiga akan kembali dilakukan pada Selasa Wage (27/08/2019) mendatang. Tahapan uji coba kawasan semi pedestrian Malioboro kali ini difokuskan kepada optimalisasi kendaraan tidak bermotor seperti andong, becak kayuh dan sepeda.

Sekda DIY Gatot Saptadi mengatakan harus ada perkembangan setiap kali uji coba dilakukan setiap Selasa Wage. Uji coba kawasan semi pedestrian yang bebas kendaraan bermotor ini memang bersamaan dengan gerakan Reresik Malioboro yang rutin diadakan pada Selasa Wage.

”Uji coba ketiga ini harus ada progres perkembangannya, masa ya uji coba terus. Harus ada perkembangan yang menuju ke titik yang akan dilaksanakan. Kami fokus pada optimalisasi kendaraan tidak bermotor dan mendorong untuk kantong parkirnya sekarang,” tutur Gatot.

Sumbu Filosofi Gatot mengungkapkan dari sisi konsep besarnya, pihaknya tengah mematangkan sumbu filosofi sebagai warisan budaya dunia yang tengah diajukan ke UNESCO. Guna mendukung hal inilah, kawasan Malioboro yang merupakan bagian dari sumbu filosofi terus ditata mulai dari fisik hingga kini ujicoba kawasan semi pedestriannya.

”Uji coba ini istilahnya merupakan rintisan awal, tetapi pada saatnya nanti harus diterapkan di Malioboro. Tidak hanya Malioboro saja, tetapi dampak ditutupnya Malioboro adalah penyediaan kantong parkir, rekayasa lalu lintas dan penataan Pedagang Kaki Lima (PKL). Kami berharap dan punya target sampai akhir tahun ini,” terangnya.

Kepala Dinas Perhubungan DIY Sigit Sapto Rahardjo menyampaikan pihaknya sekaligus akan melakukan uji coba becak listrik dalam Selasa Wage tersebut. Becak bertenaga khusus ini merupakan pengembangan kendaraan tradisional becak kayuh yang diharapkan dapat menggantikan becak montor (bentor) di kawasan Malioboro.

”Kami inginnya ada progres setiap kali uji coba penutupan Malioboro dilakukan, ada usulan jam penutupan akan diundur yang semula pukul 06.00 menjadi 08.00 WIB. Ada juga rencana untuk menutup penuh Jalan Sosrowijayan, tetapi belum dipastikan,” kata Sigit.

Sigit menjelaskan konsep kawasan semi pedestrian yang mulai diujicobakan dengan penutupan Jalan Malioboro dan car free day kali ini diharapkan juga bisa dimanfaatkan sebagai panggung pertunjukam seni budaya tanpa perlu mendirikan panggung. Tetapi jangan sampai atraksi seni budaya ini justru menutupi trotoar sehingga masyarakat malah berjalan di jalan utama.

Sedangkan jalan utamanya tetap diakses kendaraan tradisional, sepeda dan bus Trans Jogja. ”Untuk sirip-sirip, apabila ditutup maka Jalan Perwakilan harus dua arah,” tambahnya. (Ira)

BERITA REKOMENDASI