Perbankan DIY Diminta Optimalkan Penyaluran Kredit UMKM

Editor: Agus Sigit

YOGYA, KRjogja.com – Kondisi likuiditas perbankan sangat longgar, bahkan tercatat mencapai level terbesar yang pernah terjadi sehingga melimpah pada 2021 ini. Dengan tingginya likuiditas tersebut, maka perbankan diminta terus mendorong optimalisasi penyaluran kredit khususnya kepada UMKM guna membantu upaya pemulihan ekonomi nasional pemerintah di masa pandemi Covid-19.

Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) DIY Parjiman yang menyampaikan kinerja industri jasa keuangan terutama perbankan di DIY likuiditasnya melimpah tahun ini, bahkan Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh 7,28 persen (yoy) di DIY per Oktober 2021. DPK mulai dikeluarkan untuk ekspansi kredit pada triwulan IV 2021, sebelumnya masih banyak perbankan yang menahan DPK-nya triwulan III 2021. Sehingga penyaluran kredit di DIY dilaporkan mengalami peningkatan tumbuh 5,4 persen (yoy) per Oktober 2021.

”  Likuiditasnya melimpah karena dilihat dari LDR-nya, jadi DPK yang disalurkan ke kredit berkisar 61 persen dan NPL-nya atau kualitas kreditnya cenderung meningkat menjadi 3,23 persen di DIY pada tahun ini. Kami memperkirakan kredit secara nasional akan tumbuh sekitar 6 persen pada 2021. Dari rencana bisnis bank 2022, optimis kredit akan tumbuh lebih dari 8 persen,” paparnya di Yogyakarta, Rabu (29/12).

Parjiman menyatakan hal tersebut menandakan kondisi kredit belum begitu membaik seiring masa pandemi Covid-19 yang diperkirakan juga belum berakhir pada 2022. Untuk itu, OJK masih memperpanjang kebijakan restrukturisasi kredit sampai Maret 2023. Hal ini merupakan kesempatan bagi industri jasa keuangan dan sektor riil menata kembali likuiditas yang dimiliki guna memberikan kesempatan agar sektor riil menata kembali usahanya dan siap memperoleh fasilitas kredit kembali periode mendatang.

“Jadi kami masih memberikan kesempatan agar ini bisa dimanfaatkan sektor perbankan, karena terkait kualitas kredit. Demand dari sektor riil belum begitu muncul, karena perbankan sangat tergantung dari industri. Selain itu, kepercayaan perbankan terhadap sektor riil juga masih penuh tanda tanya,” tegasnya.
Sesuai yang direncanakan Bank Indonesia (BI) kedepannya, Parjiman menyebut industri perbankan diminta mengucurkan kredit minimal 30 persen pada 2024 mendatang secara nasional. Selain itu, OJK banyak meminta perbankan untuk menyalurkan kredit kepada sektor UMKM yang disesuaikan dengan ciri khas perbankan itu sendiri. Tidak terkecuali, perbankan asing pun diminta agar menyalurkan kredit kepada UMKM nantinya supaya kredit tumbuh sejalan dengan perkiraan pertumbuhan ekonomi nasional.

” OJK juga akan tetap fokus kepada beberapa kebijakan pada 2022, antara lain mengantisipasi dampak normalisasi negara maju terhadap sektor industri keuangan dan implementasi Roadmap Sustainable Finance yang concern terhadap ekonomi hijau. Mempercepat transformasi ekonomi digital termasuk digitalisasi bagi industri lembaga keuangan mikro (LKM) dan BPR/BPRS agar bisa masuk dalam ekosistem digitalisasi, program inklusi keuangan dan perlindungan konsumen dan sebagainya,” imbuhnya. (Ira)

BERITA REKOMENDASI