Perhatikan Yogya, Tanyakan Sabda Raja

WAFATNYA KH Drs Slamet Effendy Yusuf mengejutkan banyak orang. Bukan hanya orang NU, tetapi juga berbagai kalangan di Indonesia. Kiprah dan peran pria kelahiran Purwokerto yang mengenyam kuliah di Yogya ini memang banyak. Selain di lingkungan NU, Partai Golkar, juga di Majelis Ulama Indonesia (MUI), selain juga di parlemen.

Berikut ini kesaksian salah satu kawan dekatnya, yaitu KH Abdul Muhaimin (Ketua ICRP/International Conference Religion and Peace dan Pengasuh PP Nurul Ummahat Yogyakarta:

Almagfurlah KH Slamet Efendi Yusuf:
Saya hanya mengenal sampeyan itu NU…. Ketika masih di Yogya sampeyan aktif di PMII, sosok sampeyan merepresentasikan anak muda NU yang terbuka tetapi selalu kritis baik secara internal maupun stimulan dari luar yang sampeyan respons.

Kemudian kita bertemu kembali dalam keluarga besar GP Ansor ketika sampeyan menggantikan Mas Cholid Mawardi yang di'Dubes'kan Soeharto di Syuriah karena sikap kritisnya di DPR. Sayapun merasa yakin, roda organisasi akan running well karena akses sampeyan sebagai orang NU di Golkar cukup strategis.

Berbagai event nasional GP Ansor yang sampeyan nakhodai saya berusaha untuk menyempatkan diri bertemu, bukan sekedar untuk berfoto atau salaman, tetapi saya gunakan mendengar informasi penting atau berdiskusi dalam suasana kekeluargaan yang teduh karena profil wajah sampeyan yang baby face dan ungkapan sampeyan penuh keakraban tanpa birokrasi struktural maupun kultural sebagai pucuk pimpinan organisasi kepemudaan terbesar di Indonesia.

Kematangan dan kekayaan pengalaman sampeyan dalam dunia carut marut dunia politik di tanah air ternyata tidak membuatmu larut serta menipisnya identitas ke-NU-an sampeyan untuk menyumbangkan tenaga dan pikiran sampeyan yang cemerlang dalam arena Munas Alim Ulama maupun Muktamar NU di situbondo tahun 1983 dan 1984 bersama Said Budairi, Gus Dur, Masdar Farid M sehingga mampu menyelamatkan kapal besar NU dari badai besar yang melanda NU.

Dengan segudang pengalaman selama malang melintang di dunia perpolitikan Indonesia, sampeyan tidak pernah melupakan NU dan kembali dengan tulus merawat NU dalam setiap moment besar sehingga layak kembali dipercaya sebagai Waketum PBNU.

Meski demikian berat tanggung jawab sampeyan, tetapi tidak pernah lupa setiap saat berkirim SMS atau langsung menelepon saya untuk sekedar menyapa saya atau menanyakan sesuatu Yogya. Telepon terakhir sampeyan yang cukup lama ketika sampeyan menanyakan kemelut Sabda Raja kepada saya menunjukkan perhatian sampeyan terhadap semua persoalan penting menyangkut isu-isu ke-Islaman yang sedang menghadapi masalah krusial karena ulah kelompok kepentingan yg mengganggu keberadaan ASWAJA.

Saya merasakan kehilangan besar sebagaimana warga Nahdliyyin dengan kepergian mendadak malam tadi sehingga sebelum ngaji ba'da shubuh, para santri saya ajak membaca Al Fatihah untuk mengantarmu ke hadapan Allah.

Saya juga berterima kasih sekali kepada sampeyan ketika 2 kali sampeyan minta untuk menggantikan sampeyan berbicara di forum ketika sampeyan berhalangan hadir di Yogya. Adalah sangat layak jika keranda sampeyan nanti dilurupi dengan bendera NU dan kemudian ditancapkan di pusaramu untuk mengingatkan warga Nahdliyyin jika seluruh kehidupanmu telah diwakafkan untuk NU…..

Selamat jalan menuju keharibaanNya untuk memperoleh nikmat keabadian wahai teman, sahabat, saudara dan pemimpinku. Sampeyan adalah cermin besar bagi warga Nahdliyyin semua….. (*)

BERITA REKOMENDASI