Perhemi Hadir di Jogja, Beri Kemudahan Petani Hortikultura Untuk Ekspor

Editor: Agus Sigit

SLEMAN, KRJOGJA.com – Perhimpunan Horti Ekspor Milenial (Perhemi) resmi diluncurkan di DIY pada Sabtu (15/1). Perhemi akan menjadi wadah penggiat baik petani, pengusaha dan peminat hortikultura yang terdiri tanaman hias, sayuran buah, tanaman obat dan rempah yang berorientasi ekspor berstandar di Indonesia. Sebab kontribusi ekspor hortikultura terutama tanaman hias justru mengalami kenaikan signifikan selama pandemi Covid-19.

Ketua Perhemi Triadi Nugroho mengatakan Indonesia adalah negara dengan Limpahan kekayaan hayati khususnya hortikultura yang memiliki ribuan mata panah varietas hortikultura terbaik, karena Indonesia Surganya Hortikultura dunia. Perhemi hadir sebagai mitra kerja Pemerintah secara swadaya masyarakat penggiat hortikultura dalam upaya mendukung pemerintah Indonesia untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas produk hortikultura yang siap ekspor.

” Singkatnya, Perhemi menjadi pendamping teknis dan non teknis bagi seluruh penggiat hortikultura dalam rangka menyiapkan dan memantaskan diri menuju ekspor produk hortikultura. Kami berupaya meningkatkan kualitas hidup penggiat hortikultura indonesia melalui gerakan ekspor hortikultura dalam rangka meningkatkan mutu dan kualitas melalui penerapan good agricultural practices,” tuturnya di sela-sela Peresmian dan Pengukuhan Pengurus Perhemi di The Rich Jogja Hotel, Sabtu (15/1).

Triadi menyampaikan sebanyak 25 penggiat hortikultura dalam skala kecil dan menengah yang telah bergabung berhasil mengirimkan tanaman lebih dari 80 kali ke-14 negara tujuan ekspor hortikultura khususnya tanaman hias dalam kurun 2021 sebelum dikukuhkan tahun ini. Sebanyak 50 persennya dikirim ke Amerika Serikat (AS), disusul Uni Emirat Arab, Jepang dan Korea melalui platform digital ecommerce dan marketplace berorientasi yaitu www.ijoijo.com dan www.kedunia.com.

” Kedua marketplace ini memungkinkan penggiat hortikultura untuk dapat menjual dan ekspor langsung produknya ke seluruh penjuru dunia. Perhemi menjadi payung hukum legalitas teknis dan non teknis bagi mereka. Kita mengajak semua petani untuk ekspor, karena potensinya sangat besar harganya minimal 3 sampai 10 kali lipat sehingga sangat menguntungkan bagi para petani hortikultura” tandasnya.

Menurut Triadi, problematika terbesar petani enggan ekspor karena tidak paham regulasi dan sudah sibuk dengan kegiatan hortikulturanya, sehingga Perhemi hadir untuk mengurusi seluk beluk ekspor. Perhemi tengah fokus mengirimkan tanaman hias karena potensinya besar sehingga pihaknya mengajak petani mulai skala kecil hingga menengah untuk ekspor. Pemerintah pun telah membuka keran ekspor sebesar-besarnya untuk hortikultura dengan berbagai kemudahan sehingga Indonesia tidak kalah bersaing dengan Thailand yang selama ini dikenal sebagai eksportir horti dunia terbesar.

” Pelan-pelan kami akan mengedukasi petani untuk mengatur pola tanam yang lebih baik hingga menjadi pendamping ekspor. Intinya, Perhemi berorientasi dan berpikir keras cara petani hortikultura Indonesia bisa ekspor ke luar negeri. Tanaman di luar negeri jatuhnya untuk lifestyle, pertani Indonesia bisa satu hingga dua kali kirim per bulan,” jelasnya.

Wakil Ketua Perhemi Liling Watiasita yang disapa Ita, menambahkan Perhemi hadir menjembatani calon eksportir kecil untuk bisa ekspor, termasuk menjembatani antara petani dengan pemerintah karena kapasitasnya masih kecil tidak dalam kontainer, namun bernilai besar. Ekspor kecil-kecil ini masih perlu perhatian khususnya di DIY karena masih gagap teknologi dan gagap aturan.

” Kami ingin mendampingi eksportir kecil sampai mereka menjadi besar. Ekspor kesannya berkapasitas besar dan harus berkesinambungan, itulah menjadi momok petani. Ternyata ekspor hortikultura tidak seperti itu, tidak harus banyak tetapi syaratnya harus bebas nematoda dan bakterisida, segmented serta sesuai aturan negara tujuan yang berbeda-beda. Inilah yang perlu kita edukasi kepada petani,” imbuhnya. (Ira)

BERITA REKOMENDASI